oleh

Dua Opsi Tempat Relokasi

CIMANGGUNG – Banyaknya jumlah pengungsi akibat dampak longsor di Dusun Bojongkondang Desa Cihanjuang Kecamatan Cimanggung, Pemerintah Kabupaten Sumedang akan memberikan dua opsi tempat relokasi bagi pengungsi. Pertama, di Desa Tegalmanggung Kecamatan Cimanggung, kedua di Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan. Sebagaimana dikatakan Sekda Sumedang, Herman Suryatman kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Menurut Sekda, Pemkab Sumedang kini sedang fokus ke penanganan pengungsi, rehabilitasi dan rekonstruksi. Tempat pengungsi sementara terbagi di 3 zona yakni Zona 1 SDN Cipareuag, Zona 2 Taman Burung dan Zona 3 SD Azzahra. Sementara jumlah pengungsi ada 314 KK atau 1.126 jiwa.

“Kita sudah By name by addres, data pengungsi sudah masuk ke aplikasi sitabah. Dengan memanfaatkan data di manajemen, sehingga data pengungsi langsung bisa terdeteksi. Kami pun bekerja sama dengan Badan geologi, sudah diindentifikasi zona merah dan kuning. Yang termasuk ke zona merah tidak boleh dihuni ada 41 KK dan di SBG ada 99 KK. Jadi yang harus direlokasi ada 133 KK,” katanya.

Menurut Sekda, Pemkab sudah wacanakan kemana tempat untuk  relokasi. Pertama relokasi terpusat, lahannya di Desa Tegalmanggung Kecamatan Cimanggung. Karena tanah kas desa sehingga harus ada tukar guling terlebih dahulu. Sehingga, jika dikalkulasikan anggaran untuk tempat relokasi sebanyak 133 rumah di Tegalmanggung sekitar Rp57,4 Miliar.

“Opsi kedua, kami bekerja sama dengan asperumnas, mereka menyediakan perumahan LH Gold di Desa Cilemhu Kecamatan Pamulihan sebanyak 120 kavling, dengan harga bangunan/tanah Rp150 juta. Jadi, jika diperlukan 133 rumah x 150 juta, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp19,7 Miliar. Masyarakat tinggal memilih saja, mau di Tegalmanggung atau di Pamulihan,” katanya.

Sekda menambahkan situasi kondisi paska operasi pencarian dan pertolongan, semua korban sudah ditemukan. Proses pencarian dan pertolongan dinyatakan tuntas. Petugas SAR Gabungan pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Sementara itu, Wakil Menteri ATR/BPN Surya Tjandra yang berkunjung ke tempat pengungsian mengatakan pihak menteri Agraria Dan Tata Ruang (ATR/BPN) sudah mengecek ke lokasi longsor. Memang secara tata ruang, daerah itu tanahnya gerakan tanah dan rawan longsor. Sehingga, tidak layak untuk ditempati.

“Memang sebagian masyarakat harus rela direlokasi, untuk keselamatan mereka. Lokasinya memang berbahaya dan rawan longsor.  Insya allah kami akan menyampaikan ke Menteri PUPR agar segera dibenahi,” katanya.

Wamen pun menambahkan, di lokasi longsor akan dibuat penghijauan setelah sebelumnya dibuatkan boardpal untuk menahan tebing. Tekniknya seperti paku bumi yang dipasang kedalam tanah dan di cor. Namun, ketika pemasangan, warga terdekatnya  harus direlokasi karena ada guncangan.

“Secepatnya ke kementrian PU akan kami sampaikan. Namun, yang paling utama, warga harus siap dulu direlokasi, jangan sampai, tempat relokasi sudah ada, gak mau ada yang tinggal,” katanya.  (Imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.