oleh

Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Membayang – bayangi Petani di Sumedang

SUMEDANGEKSPRES,COM – Petani mengkhawatirkan pupuk kembali langka pada musim tanam kali ini. Pasalnya, kelangkaan pupuk bersubsidi sangat berdampak kepada penghasilan dan produktifitas para petani padi.

Salah seorang petani asal Darmaraja, Engkus mengaku, untuk menutupi kebutuhan pupuk pada musim tanam lalu, dirinya terpaksa harus menggunakan pupuk non subsidi dengan harga yang tinggi.

“Musim tanam lalu, saya pakai pupuk non subsidi dengan harga Rp 6000 per kg. Padahal, biasanya saya bisa mendapatkan pupuk bersubsidi dengan harga kisaran Rp 2000 sampai Rp 2500 per kilogram,” kata Engkus kepada Sumeks, Selasa (16/3).

Ditegaskan, para petani minta pupuk bersubsidi bisa dinormalkan kembali harganya seperti biasanya. Sebab, pertanian di masa pandemi Covid 19 ini jadi salah satu sektor yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup.

“Sekarang usaha sulit, mau berniaga ke luar kota juga sepi karena korona. Ditambah lagi banyak karyawan pabrik yang kena PHK, jadi masyarakat sekarang banyak yang beralih jadi petani,” kata dia.

Terpisah, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Darmaraja Iton Dani S menyebutkan, petani jangan terlalu khawatir dengan kondisi pupuk bersubsidi. Sebab, untuk musim tanam kemarau, stok pupuk disetiap kios sudah aman untuk 775 Hektar sawah yang ada di Kecamatan Darmaraja.

Namun untuk saat ini, kata dia, sesuai dengan peraturan pemerintah, petani harus memiliki kartu tani agar bisa dapat pupuk subsidi. Di Darmaraja ini, sudah sekitar 80 persen petani memiliki kartu tersebut.

“Pupuk untuk saat ini aman, berbeda dengan musim tanam pada akhir 2020,” kata dia.

Selain itu, bagi para petani yang belum memiliki kartu tani bisa diganti dengan rekomendasi dari PPL setempat dengan menyertakan NIK untuk membeli pupuk bersubsidi. “Bagi yang belum punya kartu tani bisa gunakan NIK dengan rekomendasi PPL,” ucapnya.

Kata dia, setiap petani diberikan pupuk tersebut sesuai dengan luasan lahan sawah yang mereka miliki. Sesuai petunjuk pemerintah, dari 1 haktare lahan sawah dijatah 250 Kg pupuk, itu untuk digunakan satu tahun atau 3 kali musim tanam.

“Kita sudah menjatah 250 Kg untuk satu haktre sawah, dan itu untuk satu tahun. Jadi jatah tersebut jangan langsung diambil semua, ditakutkan pupuk akan habis digunakan sebelum masa tanam terakhir tiba,” ucapnya. (eri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *