oleh

Diduga Serobot Lahan Warga, Proyek Tol Cisumdawu Dipasangi Plang

SUMEDANGEKSPRES.COM – Karena dinilai telah menyerobot lahan, ahli waris geram dan akhirnya memasang plang ke­pemi­likan lahan di lokasi pengerjaan proyek jalan Tol

Ci­lenyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), di Desa Sakurjaya Kecamatan Ujungjaya Kabupaten Su­medang , baru – baru ini.

Plang tersebut bertuliskan,
ta­nah tersebut merupakan milik Ahli Waris R. Kasan Djajadiningrat berdasarkan Putusan PTUN Bandung 07/6/2005/PTUN-BD tanggal 13 Desember 2005 dan Pene­tapan PTUN Bandung 07/ Pen.Eks/2006 tanggal 29 September 2006. Serta, Tanda pendaftaran sementara tanah milik Indonesia tahun 1995, berikut petikan dari buku pendaftaran huruf C Nomor 26 dan lain-lain.

Satria Prayoga, SH MH Selaku Kuasa Hukum dari Ahli Waris R. Kasan Djajadiningrat pe­milik tanah kurang lebih 54 hektar mengatakan, pemasa­ngan plang atau merupakan tanda bahwa lahan miliknya.

Karena, ternyata tanahnya su­­dah dilakukan pekerjaan oleh pihak CKJT. Padahal, pihaknya sudah
beritikad baik dan sudah ber­e­tika dengan melakukan koordinasi dengan pihak PPK Lahan, BPN dan pihak lainnya. Na­mun, hingga saat ini tidak ada konfirmasi ke pihak ahli waris.

”Jadi tahapan – tahapan yang
harus ditempuh itu, yaitu diskusi Publik atau memanggil pihak-pihak yang mengklaim tanah. Ini kita tidak dilibatkan atau dilakukan pemanggilan sama sekali, malahan tanah milik ahli waris sudah ada ak­ti­vitas pengerjaan proyek yang dilakukan oleh CKJT.

Ini kan sudah melanggar hukum,” ujarnya di lokasi. Padahal, pihaknya sudah
melakukan upaya hukum sampai ke Pengadilan.

Bahkan su­dah ada keputusan dari PTUN Bandung, yang putusan­­nya BPN Sumedang harus me­nerbitkan Sertifikat atas nama alhi waris R. Kasan Djajadiningrat.

Selain itu, ada juga surat dari
Kementerian Sekertaris Negara yang isinya perintah Presiden Republik Indonesia untuk menerbitkan Sertifikat di­lahan
seluas 54 hektar ter­sebut.

”Tetapi hingga saat ini,
belum ada tindak lanjut apa apa dari BPN Sumedang ataupun Panitia pengadaan lahan tol Cisumdawu. Artinya, oknum oknum ini sudah mengang­kangi aturan hukum yang ada di negara Indonesia.

Ka­rena sudah mengindahkan perintah berdasarkan keputu­san pengadilan dan bahkan perintah Presiden melalui kementerian Sekertaris Nega­ra,” kata pria yang akrab di­panggil Yoga itu.

Yoga menuturkan, jika putusan pengadilan dan perintah Presiden saja sudah tidak di­indahkan, aturan mana lagi yang harus ditempuh. Karena se­mua upaya hukum sudah ditem­puh, dan hasilnya juga su­dah inkrah.

Sehingga, diri­nya beranggapan ter­hambat­nya proses pembangunan proyek Tol Cisumdawu ini, ka­rena adanya oknum-oknum yang bermain dalam pembe­basan lahan.

“Dari 54 hektar lahan miliknya, yang sesuai dengan kepu­tusan PTUN, sudah be­berapa hektar digunakan untuk pembangunan Tol Cisum­dawu.

“Untuk itu, kami memasang plang ini, agar mereka tahu bah­wa tanah ini milik warga, yang seharusnya tidak semena-mena dibangun begitu saja,” jelasnya.

Yoga menambahkan, pi­haknya sudah melakukan kon­sultasi dengan pihak CKJT se­laku pelaksana proyek Tol Cisumdawu. Pihak CKJT sudah mengeluarkan anggaran seba­gai Dana Talang senilai Rp 18 miliar untuk pembangunan di atas tanah milik Ahli Waris ini.

”Jadi uang sebesar Rp 18 M
itu larinya kemana, karena ki­ta sebagai ahli waris pemilik lahan tidak pernah menerima se­peserpun. Kalau mereka pu­nya itikad baik, segera selesaikan. Karena kita punya le­gal standing yang jelas ko. Kalaupun ada pihak lain yang meng­klaim, tinggal konsinyasi dan saling membuktikan data legal standingnya. Jangan asal main bangun saja seperti s­ekarang ini,” tandasnya. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *