oleh

Ternyata Pengeran Mekkah, Murid Jadi Abah Sepuh

SUMEDANGEKSPRES.COM – Karaton Sumedang Larang (KSL) kembali mengadakan bedah kitab di Srimanganti, belum lama ini.

Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Madrosah Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah, Suryalaya Sirnarasa Sumedang (MTQNSSS). Disebutkan dalam Bedah Naskah Kuno ini oleh Budi Rahman Hakim MSW PhD atau lebih disebut juga Abah Jagat, bahwa Pangeran Mekah adalah murid jadi dari Abah Sepuh.

Hal tersebut dapat dilihat dari sosok Pangeran Mekah yang fenomenal pada zamannya. Perilaku dan tutur katanya menjadi teladan banyak orang.

“Murid jadi dari guru agung Pangersa Abah Sepuh adalah Pangeran Mekah, profil dari pengamal ini, the best example adalah beliau. Paling kaya setatar Sunda, karena tujuan dari pengamal ajaran ini adalah kemajuan lahiriah dan sejahtera batiniah,” terang Abah Jagat.

Dikatakan Abah Jagat, amalan TQN Suryalaya-Sirnarasa adalah amalan raja-raja. Diharapkan dengan adanya pertemuan raja adat nusantara di Sumedang menjadi sebuah momentum.

“Ini adalah sebuah momentum kebangkitan bagi Sumedang. Dalam hadits qudsi, ‘Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain aku, aku berkata sesuatu jadi, maka jadilah’. Nah itu, adalah ungkapan saciduh metu saucap nyata,” tandasnya.

Bedah kitab kali ke-4 ini berada di bulan Ramadan dan memasuki malam ke 21, maka ditandai dengan memotong tumpeng. Memotong tumpeng ini adalah sebuah bentuk syukur bagi Ikhwan TQN PP Suryalaya-Sirnarasa yang telah menggenggam Lailatul qodar.

“Sebagai Tasyakur telah menggenggam Lailatul Qodar, maka pada malam 21 Ramadan dihimbau untuk memotong tumpeng di Madrosah masing-masing. Hal tersebut merupakan himbauan dari guru Agung, Syaikh Mursyid, Pangersa Abah Aos,” tukas Abah Jagat.

Sementara itu, Raden Luky Sumawilaga, Radya Anom KSL, mengatakan manuskrip kuno tersebut harus terus dibedah setiap bulannya.

“Tidak ada maksud dalam ibadah ini adalah untuk mengharap ridhonya. Mudah-mudahan kita semua mendapat rahmatnya. Terimakasih telah membuka bait-bait manuskrip yang penuh dengan keilmuan,” tutur Raden Luky Sumawilaga.

Disebutkan Raden Lucky Sumawilaga, dalam ilmu kasumedangan ada yang namanya kesabaran dan keikhlasan adalah ilmu ketunggalan.

“Nah ini, ilmu Kasumedangan saluyu dengan apa yang dijelaskan tadi oleh Aa Kembar,” tuturnya. (eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *