Kawasan Gunung Kunci kini masuk dalam kawasan Tahura Ir. H. Djuanda. Artinya, selain menjadi objek wisata sejarah, tempat ini juga berfungsi sebagai kawasan konservasi dan pelestarian hutan.
3. Spot Wisata Edukatif dan Rekreatif
Banyak pengunjung datang untuk berjalan santai, belajar sejarah, sekaligus menikmati udara segar.
Kawasan ini sering dijadikan tempat berkemah, outbond, hingga kegiatan edukasi sekolah.
4. Akses Mudah di Pusat Kota
Baca Juga:Rumah Makan Perahu Sumedang Tawarkan Kelezatan Masakan SundaRS Mitra Plumbon Hadir di Sumedang, Tambah 200 Tempat Tidur Baru
Berbeda dengan wisata alam lain yang jauh dari pusat kota, Gunung Kunci sangat dekat dari Alun-Alun Sumedang.
Hal ini membuatnya jadi salah satu destinasi wisata favorit warga lokal maupun wisatawan luar daerah.
Mitos di Gunung Kunci
1. Penjaga Gaib Benteng
Warga sekitar percaya ada sosok makhluk halus yang menjaga kawasan benteng.
Katanya, mereka adalah roh para prajurit masa lalu yang masih “menetap” di sana.
2. Pintu Gaib di Lorong Benteng
Konon, ada lorong rahasia yang tembus langsung ke Gunung Palasari.
Namun hingga kini, lorong tersebut belum pernah benar-benar terbukti ada secara fisik.
3. Pantangan Bicara Kasar
Beberapa pengunjung percaya bahwa berkata kasar atau bersikap tidak sopan di kawasan Gunung Kunci bisa mendatangkan gangguan mistis, mulai dari tersesat hingga diganggu makhluk tak kasat mata.
4. Bunyi Misterius di Malam Hari
Ada cerita dari warga sekitar yang sering mendengar langkah kaki atau suara-suara aneh di malam hari, seolah-olah benteng masih aktif dipakai seperti masa kolonial.
Fasilitas yang Tersedia
Baca Juga:Senam Bersama di Cipajaran, Wabup Fajar Ingatkan Bahaya Judol dan Bank Emok
Tahura Gunung Kunci telah dilengkapi sejumlah fasilitas yang membuat wisatawan semakin nyaman berkunjung, di antaranya:
1. Amfiteater terbuka untuk kegiatan seni atau pertunjukan.
2. Jalur jogging dan area outbound yang cocok bagi pecinta olahraga.
3. Gazebo dan area bermain anak untuk wisata keluarga.
4. Pusat jajanan dan warung sederhana yang menyediakan makanan dan minuman.
5. Mushala dan toilet umum untuk kebutuhan dasar pengunjung.
6. Area parkir yang cukup memadai bagi kendaraan roda dua maupun roda empat.
Meski beberapa fasilitas masih terbatas, upaya perbaikan dan pengembangan terus dilakukan pemerintah daerah agar kawasan ini semakin representatif.