SUMEDANGEKSPRES – Gelombang aksi unjuk rasa terus bermunculan di berbagai wilayah tanah air. Rakyat menyuarakan keresahan mereka atas kondisi ekonomi yang kian menekan, mulai dari harga kebutuhan pokok yang melonjak hingga lapangan kerja yang semakin sulit diperoleh. Di tengah situasi itu, Abuya Prof. Dr. (H.C.) K.H. Muhammad Muhyiddin AbduL Qodir Almanafi menyampaikan curahan hati yang menyentuh kepada Ibu Pertiwi.
Dalam pesannya yang penuh keprihatinan, tokoh karismatik asal Sumedang itu menggambarkan betapa Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah ruah, namun rakyatnya masih banyak yang hidup dalam penderitaan.
“Wahai Ibu Pertiwi! Wahai Indonesia! Kau teramat indah, tiada bandingannya. Tanahmu subur, kekayaanmu melimpah, tapi kenapa bangsamu masih banyak yang kelaparan, menganggur, dan hidup di bawah garis kemiskinan?” ujarnya dengan nada pilu.
Baca Juga:Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dadi Ludes Dilalap Api, Satu Orang Terjebak Api Hingga Meregang NyawaLahan Tergenang Air Proyek Tol Cisumdawu Bakal Dikeringkan, Sekda: CKJT akan Membiayai
Abuya Muhyiddin menegaskan bahwa seharusnya bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa terkaya dan paling sejahtera di dunia, mengingat sumber daya alam yang dimiliki tak ternilai. Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. Ia mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas kesenjangan yang terjadi.
“Siapa yang sudah berani berbuat ketidakadilan, menyalahgunakan hukum, hingga membuat kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan bangsamu ini?” katanya.
Dalam curahan hatinya, Abuya juga menyinggung makna kemerdekaan yang seakan kehilangan arti ketika rakyat masih hidup dalam kesusahan.
“Apa arti kekayaanmu yang melimpah jika bangsamu penuh derita seperti ini? Apakah para penjajah baru sudah muncul kembali di punggungmu?” ungkapnya.
Ia mengakhiri pesannya dengan ungkapan duka yang mendalam, menyatakan ikut berkabung atas kondisi bangsa saat ini.
“Saya ikut sedih. Saya ikut berkabung bersamamu. Bendera Merah Putih yang Agung sekarang berkibar setengah tiang. Maafkan, wahai Ibu Pertiwi, saya tidak mampu membelamu. Hanya doa dan air mata yang kupanjatkan,” tutur Abuya Muhyiddin dengan penuh haru.
Pesan tersebut menjadi refleksi di tengah gelombang aksi protes yang kian meluas, menggambarkan kegelisahan rakyat sekaligus doa agar Indonesia dapat kembali bangkit dari keterpurukan. (red)