Menkeu Purbaya Ogah Bayar Lewat APBN, Utang Kereta Cepat Siapa Yang Tanggung Jawab?

Kereta Woosh Yang Mentereng
Dibalik kecanggihan dan kemewahan, Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) menyisakan banyak masalah soal pembiayaan yang dirasa membebani negara.
0 Komentar

Sudah punya utang yang lebih dari Rp 100 triliun proyek ini di saat yang sama ketika proyek ini sudah berjalan dan kerja cepatnya sudah bergerak berjalan. Itu justru rugi. Jadi sudah utang sekian banyak ditambah setiap tahun kita rugi hampir Rp 4, 1 triliun. Jadi kalau ini sebenarnya bisnis yang tidak masuk akal. “Jadi makanya waktu itu saya termasuk menolak. Ini bukan salah prioritas. Bayangkan setiap tahunnya rugi Rp 4, 1 triliun. Nanti di semester pertama ini, tahun 2025, itu sudah rugi sekitar Rp 1,6 triliun. Jadi bagaimana kita bisa mengembalikan utang, sementara setiap tahun rugi terus? Dan ini akan terus dan menjadi bom waktu,” ungkapnya.

Sementara itu, CEO Danantara Roslan Roeslani menunturkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih terus mengevaluasi sejumlah opsi yang dapat dilakukan selama menangani hutang proyek tersebut. Ruslan menunturkan proses evaluasi penanganan utang proyek kereta cepat dilakukan oleh COO Danantara. “Makanya saya juga bingung ya, karena kita kan lagi evaluasi dan kita juga belum dari tentara berbicara ke pihak lain, apalagi kementerian pemerintah mengenai hal ini. Saya disampaikan oleh Pak Doni yang mengerjakan ini, jadi kita sedang mengevaluasi, kita lagi mencari opsi-opsi kan selalu ada opsi satu, opsi dua gitu. Dan ini kan melibatkan banyak kementerian lain, jadi harapannya kita kan biasanya duduk dulu, kita evaluasi, opsi mana yang terbaik.

Kalau kita kan sistem kerjanya seperti itu, jadi semuanya itu terstruktur, terukur, kemudian apa hasilnya baru kita bicara ke publik. Dana masyarakat, dana pemerintah, kita selalu hati-hati mengevaluasi dan dalam persiapan biasanya average untuk memberikan pinjaman. Itu kan dari perbankan juga punya kredit-kredit masing-masing, ada sebulan, ada bisa-bisa lebih.

Baca Juga:PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Menerapkan Skema “Dynamic Pricing” untuk Kereta Cepat WhooshPeningkatan Layanan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC): Hadirkan 2 Intermoda Baru

Yang penting kan asas kehati-hatian kita junjung. Dan juga harapannya yang pemberian pinjaman yang diberikan oleh Kepenterian Keuangan, kita sangat berterima kasih, kita juga sangat apresiasi. Tapi harapannya tentunya pinjamannya tidak hanya 6 bulan, ini kan pinjamannya hanya 6 bulan diberikan. Dan dalam DOC atau deposit on call, jadi kalau kita berikan pinjaman jangka panjang kan ada potensial mismatch juga. Jadi harapannya ini bisa panjang dan harapannya ratenya mungkin tidak 4 persen atau sekarang 3,8 persen. Karena misalnya kayak Mandiri, average dari perbankan kita kan kalau depositnya itu 2,44 persen. (*)

0 Komentar