Kemiskinan Jawa Barat Turun Tapi Ketimpangan Desa Kota Masih Tinggi

Kemiskinan Jawa Barat Turun Tapi Ketimpangan Desa Kota Masih Tinggi
Rumah panggung berdinding bilik bambu tampak nyaris roboh dengan bagian dinding yang sobek, menggantung, dan lapuk dimakan usia. Atap sengnya bolong dan tertekuk, sementara tiang penyangganya tampak rapuh, berdiri di atas tanah yang mulai tergerus.(Erwin Mintara D. Yasa/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Di atas kertas, kemiskinan Jawa Barat terus menunjukkan tren penurunan sejak Maret 2022 hingga Maret 2025. Namun laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengungkap fakta yang lebih kompleks: penurunan itu dibayangi naik-turunnya tekanan ekonomi, ketimpangan desa–kota, serta pasar kerja yang makin didominasi sektor informal dan pendidikan rendah.

Ketua Tim Statistik Sosial BPS Jabar, Isti Larasati Widiastuty, S.ST., M.P, menjelaskan bahwa pandemi Covid–19 menjadi titik balik yang memicu gelombang fluktuasi tajam kemiskinan tiga tahun ke belakang.

“Kenaikan pada Maret 2022 banyak dipicu gelombang kedua pandemi dan kenaikan harga BBM. Setelah itu baru terjadi tren penurunan yang lebih stabil,” ujarnya dalam pers rilis yang dikutip Minggu (30/11).

Baca Juga:12 Negara Eropa yang Lolos ke Piala Dunia 2026, Jelas Mendominasi!12 Negara Eropa yang Lolos ke Piala Dunia 2026 Siap Dominasi Laga Olahraga Si Kulit Bundar?

Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin Jawa Barat tercatat 3,65 juta orang, turun 13,61 ribu dibanding September 2024, dan turun 193,93 ribu dibanding Maret 2024. Persentasenya kini berada di 7,02 persen, atau menurun 0,44 persen poin dalam setahun.

Namun penurunan itu tidak terjadi secara merata: perkotaan: turun dari 7,07% menjadi 6,76%. Perdesaan: turun lebih dalam, dari 9,07% menjadi 8,15%. Artinya, desa masih menyimpan kantong kemiskinan yang lebih besar, namun kinerjanya dalam setahun terakhir justru lebih baik dibanding kota.

Jika dilihat lebih dekat pada periode September 2024–Maret 2025, terjadi dinamika yang kontras: Perkotaan: jumlah penduduk miskin naik 66,02 ribu orang. Perdesaan: turun 79,63 ribu orang. Persentase kemiskinan di kota naik dari 6,65% menjadi 6,76%, sedangkan desa turun dari 8,85% menjadi 8,15%.

Fenomena ini menunjukkan tekanan inflasi dan biaya hidup yang cenderung lebih tinggi di kota, membuat kelompok rentan mudah jatuh miskin meski angka total provinsi turun. Kemiskinan bukan hanya soal jumlah, tetapi seberapa jauh jarak warga miskin dari garis kemiskinan.

Pada Agustus 2025, Jawa Barat memiliki 39,24 juta penduduk usia kerja. Dari angka itu: angkatan kerja: 26,29 juta, bukan angkatan kerja: 12,95 juta, penduduk bekerja: 24,51 juta, pengangguran: 1,78 juta.

Dibanding Agustus 2024, kenaikannya relatif kecil: angkatan kerja hanya bertambah 0,10 juta orang, sementara pengangguran naik 0,01 juta. Yang lebih mengkhawatirkan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang turun menjadi 66,99%, turun 0,72 persen poin. Penurunan paling dalam terjadi pada perempuan, dari 50,59% menjadi 49,27%, menunjukkan makin banyak perempuan usia kerja yang tidak masuk pasar kerja.

0 Komentar