Laksa, Tarawangsa, dan Sembilan Utusan: Warisan Abad Lampau dari Rancakalong

Tarian penggiring ritual Ngalaksa
PROSESI SAKRAL: Para penari perempuan membawakan tarian pengiring ritual Ngalaksa di Rancakalong, Sumedang. Dengan busana tradisional dan selendang berwarna-warni, mereka menari di hadapan para tetua adat yang memimpin rangkaian upacara.(istimewa)
0 Komentar

Begitu Ngalaksa dimulai, waktu seperti berhenti di Rancakalong. Seminggu penuh, tidak ada jeda: hanya tarawangsa yang menghipnotis, laksa yang dimasak, serta cerita tua tentang sembilan utusan yang menyelundupkan benih padi dalam rongga rebab untuk menyelamatkan desa dari paceklik.

REDAKSI, Sumedang Ekspres

SETIAP tahun, ketika kalender memasuki pertengahan Agustus, perubahan halus terjadi di Rancakalong. Kecamatan yang biasanya tenang duduk manis di dataran tinggi pegunungan Sumedang mulai berdenyut pelan.

Awalnya hanya suara bambu dan kayu yang disiapkan, lalu aroma daun combrang direbus mulai menyelinap dari dapur-dapur warga. Dan dalam hitungan hari, seluruh wilayah seperti ditarik ke masa yang lebih tua: masa ketika padi dianggap bukan sekadar makanan, tetapi titipan suci dari semesta.

Baca Juga:Mangu-MaluDaftar Lengkap Penerima Bintang Bhayangkara Pratama 2025

Di sinilah Ngalaksa menemukan napasnya. Sebuah ritual adat agraris yang telah ratusan tahun diwariskan, dan hingga kini tetap digelar siang-malam tanpa jeda selama sepekan penuh. Tidak pernah ada istirahat. Tidak pernah ada “hari kosong”. Sebab bagi warga, memutus ritual berarti memutus tali penghormatan pada Dewi Sri, perlambang padi dan kehidupan.

Dilansir dari berbagai sumber, selama tujuh hari itu, lima rurukan Pasir Biru, Legok Picung, Cijere, Cibunar, dan Rancakalong–bergerak seperti lima urat nadi yang menyuplai energi ke pusat tubuh. Mereka membuka lumbung peninggalan leluhur, menurunkan peralatan ritual, dan membawa serta ingatan yang sudah tak terhitung umur.

Ritual inti sebenarnya sederhana tetapi sarat makna: membuat laksa, makanan dari tepung padi yang dicampur garam, kelapa parut, dan kapur sirih. Adonan itu kemudian dibungkus daun congkok lalu direbus dengan air daun combrang. Namun kesederhanaannya justru memancarkan sesuatu bahwa keberlimpahan pangan berawal dari kesetiaan manusia menjaga tanah dan benih.

Saat proses ini berlangsung, ruang ritual tak pernah benar-benar sepi. Di sudut panggung, dua alat musik kuno menunggu giliran: kecapi jentreng dan rebab ngekngek, nyawa dari kesenian tarawangsa. Ketika petikan dan gesekan pertama dilepaskan, suasana berubah. Bunyi jentreng yang halus dan dengung rebab yang serak menggugah sesuatu yang lebih purba dari sekadar rasa.

0 Komentar