Kata warga, bunyi tarawangsa bukan sekadar musik. Ia adalah undangan. Tubuh yang mendengarnya–bahkan tubuh orang yang tak pernah menari–sering mengikuti irama tanpa diminta.
“Kalau Anda ikut menari, meskipun tidak bisa, tubuh tetap akan bisa. Jangan mencela tarinya. Kalau terdengar oleh para nayaga, sekali disentuh, Anda akan menari dan sulit dihentikan,” tutur salah satu tokoh budaya Sumedang.
Tidak sedikit orang yang menyebut pengalaman itu mirip kesurupan, tetapi warga Rancakalong menyebutnya “kaayaan”, keadaan ketika tubuh dipinjam untuk menghormati leluhur.
Baca Juga:Mangu-MaluDaftar Lengkap Penerima Bintang Bhayangkara Pratama 2025
Rancakalong bukan sembarang tempat. Dari sekitar 90 kesenian tradisional khas Sumedang, setidaknya 34 jenis kesenian lahir atau hidup di kecamatan ini. Tak mengherankan jika banyak yang menjulukinya sebagai lumbung seniman.
Sejarawan lokal percaya, gelombang kesenian itu lahir dari sebuah masa genting. Pada masa Prabu Geusan Ulun, pewaris Sumedang Larang, terjadi pertempuran dengan Cirebon. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Dayeuh Luhur, namun para seniman memilih jalan berbeda. Mereka mengungsi ke Rancakalong dataran tinggi yang terlindung, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan. Dari tempat persembunyian itulah, seni Sumedang berkembang subur.
Tak heran jika sampai sekarang, setiap pojok Rancakalong seperti punya suara sendiri. Suara masa silam.
Namun sejarah Ngalaksa tidak hanya lahir dari kesuburan tanah, tetapi juga dari masa kelaparan.
Pada abad lampau, ketika Mataram hendak menyerang Batavia, seluruh hasil panen disedot untuk logistik perang. Rancakalong yang biasanya menjadi penyedia padi justru mengalami paceklik hebat. Tak ada beras tersisa. Warga hanya makan hanjeli, biji-bijian keras yang menjadi penyelamat terakhir.
Dalam situasi genting itu, sembilan orang utusan dikirim ke Cirebon untuk mencari benih padi. Perjalanan itu berbahaya, karena prajurit Mataram merazia siapa pun yang membawa benih. Namun para utusan tidak kehabisan akal.
Mereka membawa kecapi dan rebab instrumen yang pada masa itu identik dengan profesi pengamen atau pesindén jalanan. Benih padi yang mereka dapatkan disembunyikan di dalam lubang resonansi rebab. Lubang itu kemudian ditutup dengan posisi kaki kiri yang menganga ketika rebab digesek, teknik yang kini menjadi ciri khas permainan tarawangsa Rancakalong.
