“Mereka berlagak seperti pengamen agar tidak dicurigai,” ujar Tatang Sobana. “Gerak mengesek rebab dengan menutup resonansi itu bukan gaya artistik. Itu sejarah.”
Benih padi berhasil dibawa pulang, ditanam, dan menjadi penyelamat desa. Sejak saat itulah, warga meneguhkan tradisi Ngalaksa sebagai wujud syukur sekaligus pengingat bahwa benih kehidupan selalu perlu dijaga bersama.
Kini, setiap kali Ngalaksa digelar, Rancakalong seperti memasuki ruang waktu yang berbeda. Warga muda hingga sepuh bekerja tanpa henti. Musik tak pernah padam. Dari fajar hingga tengah malam, bunyi jentreng dan rebab seperti memagari kampung dari kebisingan dunia luar.
Baca Juga:Mangu-MaluDaftar Lengkap Penerima Bintang Bhayangkara Pratama 2025
Tradisi ini bukan hanya ritual. Ia adalah cara Rancakalong mengingat dirinya, mengingat leluhur yang menyelamatkan benih padi, mengingat para seniman yang bersembunyi dan menetap, mengingat tanah yang memberi kehidupan, dan mengingat bahwa syukur tidak pernah boleh absen dari musim panen mana pun.
Karena itu, selama sepekan di bulan Agustus, Rancakalong bukan lagi sebatas kecamatan pegunungan. Ia menjelma menjadi panggung sakral di mana sejarah, bunyi, gerak, dan doa bertemu menjadi satu.(red)
