TAK ada di dunia ini yang tak punya kepentingan. Semua makhluk pasti punya kepentingan. Hata lalat pun punya kepentingan. Paling tidak, kepentingan untuk bertahan hidup dengan menghisap sesuatu dari apapun yang kotor.
Pedagang punya kepentingan mengambil untung dari pembeli. Pembeli pamrih dapat diskon dari penjual. Boss/pejabat butuh loyalitas bawahan. Bawahan butuh validasi pimpinan agar bisa naik jabatan. Bahkan jika perlu menjilat pantat atasan pun dilakukan, yang penting bisa melentingkan karir. Tak peduli dengan cara menginjak atau menjegal teman sebelah, hingga tersungkur.
Penguasa butuh rakyat yang tunduk patuh, hata jika harus ditindas, seperti kecoa yang diinjak hingga gepeng. Atau penguasa butuh panggung dunia, walau kedaulatan terjerat kesepakatan. Rakyat butuh pemimpin yang adil dan berani menjaga kedaulatan. Walau tak pernah menemukannya dari dulu hingga sekarang. Entah sampai kapan ditemukan. Bahkan perlu disayembarakan, “Dicari pemimpin yang adil dan berani menjaga, memerjuangkan kepentingan dan kedaulatan bangsa dan negara ini. Agar tidak dijual ke asing dengan dalih apa pun”. Dan muncullah para pengobral janji tiap pemilu (pemilihan umum). Rakyat pun memilihnya demi harapan pada janji yang ditunaikan. Yang dicari tetap tak ditemukan.
Baca Juga:KEBAB 2026 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di Ramadan BerikutnyaHanya Satu Peserta dan Tanpa Tender, Renovasi Rumah Dinas Hampir Rp300 Juta di Sumedang Disorot Pakar Unpad
Bagi sebagian orang, meraih kekuasaan adalah hasrat terbesar yang musti diraih selama hayat dikandung badan. Pun ketika kekuasaan atau jabatan itu didapat, selalu melahirkan kebutuhan baru yang harus dipenuhi. Semakin tinggi jabatan atau besar kekuasaan, semakin miskin kecukupan. Dan untuk memenuhi syahwat kesenangan tersebut, kadang melego moral dan etik sebagai integritas – keutuhan keadaban diri. Demi menyuapi syahwat, tak peduli dengan konflik kepentingan -conflict of interest/CoI. Untuk mewujudkan CoI tersebut, berbagai cara orang melakukannya.
Ada himbauan menarik dari Saldi Isra yang susah dilakukan. Orang Padang-Sumatera Barat yang juga wakil ketua Mahkamah Konstitusi ini, CoI hanya bisa dilawan dengan integritas. Seolah CoI adalah musuh kejam yang akan memorak-porandakan kehormatan seseorang, tanpa pandang bulu. Macam Israel yang menyerang bangunan sekolah dasar di Iran dan Gazza, menewaskan ribuan manusia. Ditengah budaya birokrasi yang selalu membutuhkan validasi dan jabatan adalah untuk menikmati fasilitas, integritas menjadi penjaga moral dan etik birokrasi.
