Integritas mencerminkan kejujuran yang menjadi prinsip dan selalu dipegang teguh. Seperti halnya, emas permata digenggaman yang tak pernah ingin terlepas sedetikpun.
Integritas adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, sebagai bagian dari prinsip birokrasi yang harus dijaga. Sebab birokrasi harus berlandaskan pada filosofi melayani masyarakat dan diwujudkan dalam etika birokrasi. Hal inilah yang harus diperjuangkan dan dibangun bersama. Integritas bisa melahirkan kepercayaan.
CoI tidak akan muncul, bila integritas sudah menyatu bagai kopi dan gula secara personal, jabatan dan sistem. Artinya, integritas menjadi tameng yang melekat dikepribadian seseorang. Tanpa integritas, orang akan cendrung terperangkap CoI yang berujung pada tindak korupsi atau menyalahgunakan jabatan/kekuasaan. Integritas harus dijaga mati-matian. Walau faktanya tidak mudah.
Baca Juga:KEBAB 2026 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di Ramadan BerikutnyaHanya Satu Peserta dan Tanpa Tender, Renovasi Rumah Dinas Hampir Rp300 Juta di Sumedang Disorot Pakar Unpad
Namun demikian, integritas bisa dilembagakan andaikan dibangun sistem yang memungkinkan siapapun tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan atau melakukan CoI. Akhirnya “kepemimpinan tanpa integritas akan kehilangan legitimasi”. Pasca Muhammad Hatta, Baharuddin Lopa, Ir. Sutami dan sebangsanya, siapakah pemimpin saat ini yang diangap berintegritas dan terlepas dari CoI? Entahlah. Sayapun ragu, bisakah saya menjaga integritasku sendiri dari CoI? Godaan hedonis, syahwat dan kekuasaan begitu besar. Bak banjir bandang yang meluluh lantakkan nurani dan moral-etik. Seringkali integritas kalah telak dengan CoI. Itu fakta! (Kang Marbawi, 070326)
