oleh

Jabar – DKI Jakarta Memiliki Hubungan Sejarah Masa Lalu

SUMEDANGEKSPRES.COM- Kerjasama ekonomi antara Jawa Barat dengan DKI Jakarta, sejatinya memiliki nilai sejarah yang tak mungkin lekang ditelan zaman.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat memberikan sambutan dalam acara penandatanganan kontrak kerja sama Ketahanan Pangan antara Pemkab Sumedang dengan Pemprov DKI Jakarta di Kecamatan Tomo, baru – baru ini.

“Pertama, DKI itu namanya Sunda Kelapa. Itu pelabuhan milik kami, kira – kira begitu,” ucap Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Karena dahulu, Kerajaan Padjadjaran yang berpusat di Bogor, memiliki dua pelabuhan di Banten dan di Sunda Kelapa. Kedua, pandemi Covid – 19 yang tengah mewabah saat ini, seakan membuka sejarah masa lalu.

Batavia pada saat itu diserang  pandemi Malaria, dengan sebutan Malaria Sundanica. (Akibat kehadiran nyamuk Anopheles Sundaicus).

Karena di Batavia banyak rawa, suhu panas dan saat itu juga banyak warga yang  meninggal dunia, maka pemerintah Kolonial memutuskan untuk memindahkan ibukota Jakarta (Batavia) ke Bandung.

Wacana itu pun ditindaklanjuti dengan memindahkan pusat militer ke Cimahi dan Bandung. Mulai dari Angkata Darat, Angkatan Udara serta Kepolisian kecuali Angkatan Laut.

Begitu pula dengan Kantor Kementrian ESDM dan Kantor Kementrian Perhubungan.  “Makanya kantor Geologi dan PT KAI ada di Bandung,” sebutnya.

Namun belum juga usai proses pemindahan ibukota, Jepang keburu datang dan menginterupsi rencana itu.

Emil melanjutkan pembicaraannya dengan mengatakan Jakarta itu dahulunya bagian dari Jawa Barat, pasca Kemerdekaan RI diproklamasikan Presiden Soekarno pada tahun 1945.

Namun sejak tahun 1959, Jawa Barat mengikhlaskan Kota Jakarta menjadi Provinsi DKI Jakarta. Karena keistimewaannya dan diminta menjadi ibu kota negara.

“Jadi kurang apa lagi, tanah Pasundan Jawa Barat ini, diberikan untuk eksistensi DKI yang luar biasa saat ini,” kata Emil penuh canda.

Itulah sekelumit tentang sejarah hubungan antara DKI Jakarta dengan Jawa Barat yang sekarang diperkuat kembali dengan membangun kerja sama ketahanan pangan.

“Yang dijalin saat ini, bukan semata untuk kepentingan Pak Anies, saya sendiri atau bahkan kepentingan Pak Dony, lebih dari itu untuk mensejahterakan masyarakat di wilayahnya masing – masing,” tuturnya.

Emil berharap, kerjasama ekonomi yang dijalinnya itu, sebagai babak baru sekaligus pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid – 19.

Senada dikatakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. kerjasama itu sebagai babak baru dalam  mensejahterakan masyarakat di Sumedang (Jabar) dan DKI Jakarta.

Diawali dengan pengiriman perdana 30 ton beras ke Jakarta, Anies berharap dapat berjalan secara berkesinambungan hingga masa yang akan datang.

“Kerjasama yang kita bangun ini, pertama bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan di Jakarta,” katanya.

Bila kebutuhan pasokan pangan di Jakarta aman, maka secara otomatis berdampak kepada stabilitas harga, atau bahkan mungkin bisa lebih rendah dan terjaga.

Kedua, untuk mensejahterakan para petani. Lantaran, gabah yang nantinya akan dibeli, harganya akan menjadi tinggi. “Insya Allah petani akan mengalami peningkatan kesejahteraan,” sebutnya. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *