oleh

Nasib Pedagang Seblak yang Hancur Diterjang Pandemi

Anak Nunggak Kuliah Hingga Jual Hp Untuk Bertahan

 

SUMEDANGEKSPRES.COM, Kota – Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, telah menghancurkan sejumlah sektor usaha, tak terkecuali para pedagaang UMKM.

Hingga saat ini, para pedagang mikro tersebut terus mengalami penurunan omset. Bahkan tidak sedikit juga yang terpaksa gulung tikar karena sepinya pembeli akibat diberlakukannya PPKM beberapa waktu lalu.

Salah seorang pedagang seblak, warga Desa Pamarisen, Kecamatan Sumedang Utara, Warsih, mengungkapkan dirinya terpaksa tutup berjualan di Sumedang Kota karena libur sekolah yang tak kunjung usai.

Pasalnya, kebanyakan dari pelanggannya merupakan anak sekolah. Yang semenjak pandemi ini diberlakukan sistem belajar online oleh pihak sekolah.

Warsih menceritakan, sebelum pandemi dan pemberlakuan PPKM, omset pendapatan setiap hari bisa mencapai Rp 700 ribu. Akan tetapi, setelah pandemi bergulir di Sumedang, omset nya menurun drastis hanya mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu.

“Kalo itu keuntungan sih ngga apa-apa, itu kan hitungannya kotor, belum dikurangi modal. Bahkan di awal tahun 2021 omzet perhari tidak lebih dari Rp 50.000,” ujarnya kepada Sumeks.

Dengan kondisi tersebut, Warsih mengaku harus bekerja keras untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, anak bungsunya sampai harus mengambil cuti kuliah karena biaya kuliah yang menunggak.

“Sudah banyak cara yang saya lakukan. Selain jualan seblak dan jus. Saya juga meminjam uang ke Bank untuk membuat usaha baru agar kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi. Jadi, saya punya 3 produk yang dijual. Seblak, Jus dan Molen. Namun, memang karena sepi ya terpaksa anak saya menunda kuliahnya selama setahun. Itu ketika awal pandemi, padahal anak saya sudah semester akhir,” paparnya.

Sementara itu, Warsih juga mengaku bahwa dirinya mendapatkan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, bantuan tersebut dia prioritaskan untuk membayar sisa sisa pinjaman yang selama ini membebani nya.

“Bantuan dari pemerintah yang dikhususkan untuk UMKM juga cuman ikut lewat. Ketika cair, ya saya pakai buat bayar kontrakan, bayar utang sana-sini,” paparnya.

Tak hanya itu, lanjut Warsih, pandemi Covid-19 yang telah merenggut usahanya sejak 8 tahun lalu tersebut. Juga harus memaksa dirinya untuk menjual barang barang kesayangannya demi melanjutkan usaha di sekitar rumahnya.

“Mungkin sudah takdirnya saya pulang, tidak lagi jualan di kota. Buat bisa jualan lagi molen juga sekarang saya jualin aja blender bekas jualan jus waktu itu, hasil alam di kebun, sampai handphone saya jual agar bisa buka usaha lagi di desa. Pindah jualan ke desa biar tidak capek bayar sewa tempat. Ya meskipun belum stabil, tapi insha Allah masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya. (Mg1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *