Hibriditas Budaya Bantengan Mberot di Malang

Kesenian Bantengan Malang
Kesenian Bantengan Malang
0 Komentar

Bhabha percaya, lewat ruang ketiga, makna budaya selalu dinegosiasikan dalam konteks sosial yang berubah-ubah. Sejalan dengan asumsi itu, dia juga meyakini, kolonialisme dalam budaya, atau bisa disebut juga sebagai hegemoni budaya, tidak hanya menguasai, tetapi juga membuka ruang resistensi dan pembalikan makna.

Asumsi tentang terbukanya resistensi dan pembalikan makna budaya dominan dimungkinkan dengan konsep mimikri. Yaitu, tindakan meniru budaya penjajah atau penghegemon oleh subjek terjajah untuk memunculkan budaya yang hampir sama tetapi tidak sepenuhnya. Mimikri dalam hibriditas budaya merupakan bentuk resistensi halus yang merusak otoritas hegemon.

Fenomena Bantengan Mberot bisa dideduksi sebagai wujud nyata hibriditas budaya terhadap bantengan tradisional. Sebagai budaya dominan, tesis bantengan tradisional mengalami dialektika makna ketika ditabrakkan dengan unsur antitesis berupa Sound Horeg dan atribut tari yang keluar dari pakem. Globalisasi dan media sosial juga turut memperkuat pembalikan makna bantengan oleh generasi muda.

Baca Juga:Laksa, Tarawangsa, dan Sembilan Utusan: Warisan Abad Lampau dari RancakalongMangu-Malu

Bantengan yang memakai musik DJ dengan genre koplo, plus dikontenkan di media sosial, menjadi mimikri dari bantengan tradisional. Kemunculan atribut baru seperti ‘saweran’ pada penari banteng juga semakin menggeser makna hegemoni bantengan tradisional. Dialektika yang terjadi di ruang ketiga atau third space antara bantengan tradisional dan bantengan mimikri melahirkan identitas baru. Proses dialektika antara tesis dan antitesis dalam bantengan ini memunculkan sintesis bernama Bantengan Mberot.

Sintesis ini tak terelakkan. Karena, semakin banyak generasi muda yang menggandrungi Bantengan Mberot. Bagi mereka, seni bantengan ini lebih mudah dicerna dan menghibur. Tentu, dari sudut pandang pelestarian kearifan lokal, kemunculan Bantengan Mberot setidaknya akan menjaga warisan budaya hingga generasi berikutnya.

Bantengan Mberot merupakan bukti bahwa hibriditas budaya bukan sekadar perubahan artistik kesenian. Sintesis ini merupakan hasil negosiasi identitas dan makna tradisi pada era digital dan tantangan global. Lewat hibriditas budaya, Bantengan tetap bisa melestarikan tradisinya, sembari berjalan beriringan dengan inovasi dan dinamika zaman.

*Yudistira Satya Wira Wicaksana merupakan Mahasiswa Magister By Project Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Artikel ini telah disunting oleh Dr Ira Mirawati, MSi, Dosen Magister By Project Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

0 Komentar