BEGITULAH nasib daun pintu yang engselnya lepas sebelah. Lunglai, sengkleh dan menunggu waktu terjatuh dari pilar pintunya. Mur di engsel itu telah copot dari baudnya. Tak mau lagi bertahta menyatukan daun pintu dan pilarnya. Entah karena lapuk atau tak sengaja ke tabrak gerobak pasir tambang yang melewati pintu. Atau mungkin diseruduk kambing dimusim kawin gara-gara ada stiker bergambar nikah masal. Hanya yang punya rumah dan Tuhan yang tahu penyebab copotnya daun pintu itu.
Konon griya ini punya sejarah panjang dan besar. Rumah itu menjadi tempat bernaung orang banyak. Kebanyakan dari kalangan wong cilik. Griya itu nyaman untuk orang awam. Menaungi, memayungi, menghidupi, menjaga warisan dan menentramkan. Walau belum sampai menyejahterakan penghuninya, wong cilik. Baru pengelola rumah griyanya yang sejahtera.
Wisma itu biasa, berganti pintu dan pilar, ketika sudah waktunya. Soal daun pintu, rumah yang satu ini banyak sekali punya cadangan daun pintu berkualitas. Kadang terjadi keributan kecil soal daun pintu mana yang pantas disematkan. Bahkan ada kiriman daun pintu dari pak lurah yang sengaja ingin dipasang segera.
Baca Juga:Daftar Lengkap Penerima Bintang Bhayangkara Pratama 2025Diduga Kehilangan Kendali, Mobil di Tol Cisumdawu Terpental Lalu Terbakar Hebat
Biasanya yang empunya rumah, bisa menyelesaikan semua huru-hara dengan baik dan elegan. Karena yang punya, memang bukan orang sembarang.
Soal daun pintu yang terlepas dari engselnya, memang tak elok dipandang mata. Tak patut rumah besar, dihuni oleh orang-orang hebat, tapi pintunya tergantung lemas, terombang-ambing. Meronta-ronta hanya bertumpu pada satu engsel yang masih terpasang. Bisa merusak reputasi pemiliknya.
Selain itu, rumah besar itu sendiri sudah terkenal seantero jagat. Sebagai rumah peradaban, penjaga bangsa, dan rumahnya para masyayikh, panutan masyarakat kecil dan pejabat.
Yang punya rumah sejatinya tahu, harus berbuat apa. Cuma , ada yang tak rela daun pintu jatuh tersungkur ke halaman begitu saja. Macam barang bekas yang tercecer terbawa banjir. Berusaha memperbaiki pintu itu agar kembali nempel ke pilar. Walau harus dipaku bukan di baud dengan mur. Karena merasa masih ada satu engsel yang nempel. Sementara lubang baud di pilar pintu, sudah tak sama besarnya. Ditambah orang lewat berebut lalu-lalang menabrak pintu yang terkulai, membuat goncangan ke pintu semakin keras. Hingga hilang kunci pintunya.
