SUMEDANGEKSPRES – DARI luar, rumah itu tampak ringkih. Dindingnya rapuh, sebagian kayunya lapuk dimakan usia. Atapnya bocor di beberapa sudut, membuat air hujan kerap menetes ke dalam ruangan.
Di sanalah Ma Acih (60), warga Dusun Sindulang, RW 01, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Sumedang, melewati hari-hari senjanya seorang diri.
Setiap pagi, perempuan tua itu duduk di depan rumahnya. Tatapan matanya kosong, menembus jauh, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.
Baca Juga:Kemiskinan Jawa Barat Turun Tapi Ketimpangan Desa Kota Masih Tinggi12 Negara Eropa yang Lolos ke Piala Dunia 2026, Jelas Mendominasi!
“Kadang saya hanya diam, menunggu ada tetangga yang lewat untuk diajak ngobrol,” katanya lirih.
Hidup bagi Ma Acih hanyalah serangkaian hari yang sederhana. Ia tak lagi punya tenaga untuk bekerja. Untuk makan sehari-hari, ia bergantung pada bantuan pemerintah: Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga paket sembako dari program penanganan miskin ekstrem. Sesekali, ada tetangga yang baik hati mengulurkan beras atau lauk seadanya.
“Kalau ada yang kasih, ya dimakan. Kalau tidak, cukup sama yang ada saja,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Kisah Ma Acih menjadi perhatian setelah diberitakan media. Sejak itu, bantuan mulai berdatangan. Yayasan sosial, pemerintah desa, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang datang memberi dukungan.
“Betul, kami sudah menyalurkan bantuan sembako. Kondisinya memang pantas dibantu,” kata Kepala BPBD Sumedang, Bambang Rianto.
Namun, persoalan terbesar ada pada tempat tinggalnya. Rumah yang nyaris roboh itu tak bisa begitu saja diperbaiki karena berdiri di atas tanah milik orang lain. Status lahan menjadi tembok besar yang sulit ditembus.
“Kami terkendala status tanah. Tapi kami tetap berupaya, akan koordinasi dengan lintas dinas agar ada solusi,” lanjut Bambang.
Baca Juga:12 Negara Eropa yang Lolos ke Piala Dunia 2026 Siap Dominasi Laga Olahraga Si Kulit Bundar?Flek Hitam dan Bekas Jerawat Bisa Tersamarkan dengan Bedak Compact Ini
Bagi tetangga, Ma Acih dikenal sabar. Ia jarang mengeluh, meski jelas sekali rumahnya tidak layak dihuni. Pada malam hujan deras, ia kerap duduk di sudut rumah, berdoa agar atap tak runtuh.
“Beliau sering bilang, ‘kalau hujan deras, saya hanya bisa pasrah.’ Tapi tidak pernah iri dengan orang lain,” tutur seorang warga setempat.
