Dampak Buruk Bergosip, IMM Sumedang Ingatkan Bahaya Ghibah bagi Kesehatan Mental

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
PAPARKAN MATERI: Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumedang, Erfin Nur Husein, saat menyampaikan materi kajian terkait etika komunikasi dan bahaya ghibah, baru-baru ini.(Yoga/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Kebiasaan bergosip yang kerap dianggap obrolan ringan sehari-hari ternyata menyimpan dampak serius.

Sejumlah penelitian psikologi sosial menunjukkan, perilaku yang dalam Islam dikenal sebagai ghibah itu berpotensi merusak kesehatan mental sekaligus meretakkan hubungan sosial di masyarakat.

Fenomena tersebut dinilai masih jamak ditemui di berbagai lingkungan sosial di Kabupaten Sumedang, terutama pada komunitas kecil dengan intensitas interaksi tinggi, seperti di tingkat RT dan RW.

Baca Juga:Pelajar Padati Museum Sepanjang 2025, Ribuan Pengunjung Catatkan Rekor KunjunganJelang Nataru, Jalur Selatan Nagreg Masih Lengang

Sejumlah jurnal internasional, di antaranya Frontiers in Psychology dan BMC Psychology, mencatat bahwa gosip negatif dapat memicu stres, kecemasan, serta menurunkan rasa saling percaya antarindividu.

Dampaknya, menjadi lebih kuat di lingkungan sosial yang tertutup, di mana informasi cepat menyebar dan sulit diklarifikasi.

Menanggapi kondisi itu, Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumedang, Erfin Nur Husein, menilai kebiasaan bergosip tidak bisa lagi dipandang sebagai percakapan biasa, terlebih jika sudah menyentuh ranah pribadi orang lain.

“Ghibah sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius. Secara agama jelas dilarang, dan secara ilmiah juga terbukti merusak kesehatan mental serta keharmonisan sosial,” ujar Erfin, mahasiswa Universitas Sebelas April Sumedang, saat diwawancarai.

Menurutnya, praktik ghibah kerap muncul dalam obrolan informal, mulai dari arisan, kegiatan sosial, hingga percakapan di grup WhatsApp lingkungan.

Tanpa disadari, lanjut dia, kebiasaan tersebut dapat memicu kesalahpahaman dan tekanan psikologis bagi pihak yang menjadi objek pembicaraan.

Dalam ajaran Islam, larangan ghibah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12. Ayat tersebut mengibaratkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia: sebuah perumpamaan keras untuk menunjukkan beratnya dosa perbuatan tersebut.

Baca Juga:Harga Telur Merangkak Naik, Komoditas Lain di Pasar Tanjungsari Masih TerkendaliTPK Hotel Sumedang Tembus 35,89 Persen, BPS: Bintang Melonjak, Non Bintang Lesu

Erfin menilai, pesan keagamaan itu sejalan dengan temuan ilmiah modern. Ia merujuk pada hasil penelitian yang menyebutkan individu yang hidup di lingkungan dengan tingkat gosip tinggi cenderung mengalami kelelahan emosional serta rasa tidak aman dalam bersosialisasi.

“Kalau lingkungan sudah dipenuhi gosip, rasa saling percaya akan hilang. Ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga melemahkan ketahanan sosial masyarakat,” katanya.

0 Komentar