Sang Waktu 

Pojokan
Pojokan
0 Komentar

Demikian pula, waktu bersifat temporalitas (rangkaian peristiwa yang dialami), terbatas (hingga dia mati), sekaligus berdimensi abadi (yaum middiiin-al-Akhir-future), tak berubah sebagai waktu objektif (present). Ruang, individu dan dzat lah yang berubah seiring waktu objektif yang dikonsep manusia. Keabadian waktu, berkelindan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki (kesempatan) manusia selama dia hidup.

Sejatinya waktu adalah konstruk sosiologis yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Emile Durkheim, menahbiskan bahwa masyarakat menciptakan struktur waktu untuk mengatur ritme kehidupan sehari-hari. Waktu juga menjadi bagian dari cara masyarakat mengatur kehidupan dan hubungan antar individu. Karenanya waktu objektif/subjektif berkaitan dengan struktur sosial, kekuasaan dan ekonomi.

Bahkan Max Weber menyatakan dalam masyarakat modern, waktu menjadi lebih terorganisir dan dikelola secara efisien. Dalam sistem kapitalisme industri, waktu menjadi komoditas yang sangat bernilai, di mana produktivitas sangat bergantung pada pengelolaan waktu yang tepat. Lihat saja sistem jam kerja, lembur serta sistem out sourching, menunjukkan waktu adalah komoditas yang harus dikelola maksimal.

Baca Juga:Libur Tahun Baru Dongkrak Aktivitas Memancing di Jatigede, Spot Favorit jadi RebutanKetahanan Pangan Indonesia 2026: Refleksi Ekonomi di Tengah Tantangan Sistemik

Bagi seseorang, waktu bisa bersifat insidental (peristiwa yang terjadi pada dirinya). Maka seperti yang disampaikan Martin Heideger bahwa setiap individu mengalami tiga konsep waktu; dulu, sekarang/saat ini dan yang akan datang/masa depan.

Masa lalu adalah track record nilai/pengalaman diri, menjadi biografi seseorang. Ada orang yang dirundung penyesalan, dendam, amarah dan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Menjelma menjadi ketakutan atas ilusi pikiran sendiri. Melahirkan derita atau ketakbersyukuran atas hidup. Atau mengagungkan romantisme masa lalu tanpa melihat masa kini dan yang akan datang. Masa lalu menjadi catatan referensi yang selalu dianggit, diungkit, atau menjadi manaqib. Maka waktu memiliki dimensi sejarah, kekinian sekaligus futuris-harapan, yang tak terputus dan saling memengaruhi.

Karenanya dalam konteks waktu sosialogis, kita harus memahami sistem nilai yang dianut dalam kehidupan sosial. Agar waktu yang dijalani saat ini menjadi berarti dan bermanfaat. Sehingga waktu yang terbatas tersebut, kita tak mendapat label “al-khusr”, orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu, seperti dalam surat Al-Ashr. Tergilas waktu.

0 Komentar