Program MBG Berpotensi Picu Lonjakan Sampah, Produksi Harian Sumedang Bisa Tembus di Atas 120 Ton

Sampah Sumedang
Ilustrasi - Seseorang tengah memilah sampah di salah satu TPA di Sumedang.(Dok. DLH Sumedang)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan berjalan di seluruh titik layanan di Kabupaten Sumedang berpotensi memicu lonjakan volume sampah harian.

Saat ini saja, produksi sampah di Sumedang telah mencapai 120 ton per hari, dan angka tersebut diprediksi meningkat seiring distribusi makanan massal dari program nasional tersebut.

Isu lonjakan sampah MBG ini menjadi sorotan dalam audiensi Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang bersama PT Makmur Radhika terkait pengelolaan sampah berbasis Waste to Wealth, yang digelar di Ruang Rapat Wakil Bupati, Pusat Pemerintahan Sumedang, baru-baru ini.

Baca Juga:Produksi Sampah Sumedang Capai 120 Ton per HariSimulasi Damkar Digencarkan, Warga Dilatih Tangani Kebakaran Sejak Api Kecil

Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila menegaskan bahwa MBG membawa dampak ganda. Di satu sisi meningkatkan gizi masyarakat, namun di sisi lain berpotensi menambah beban pengelolaan sampah, terutama dari sisa makanan dan kemasan.

“Produksi sampah kita saat ini sudah 120 ton per hari. Program MBG nanti akan menambah volume tersebut jika tidak diantisipasi sejak awal,” tegas Wabup Fajar seperti dilansir dari laman sumedangkab.go.id.

Menurutnya, pola distribusi MBG berpotensi menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar serta limbah kemasan sekali pakai. Tanpa sistem pemilahan dari sumber, lonjakan sampah tersebut berisiko membebani tempat pembuangan akhir.

Saat ini, Sumedang telah meninggalkan sistem open dumping dan beralih ke controlled landfill, dengan target jangka panjang menuju sanitary landfill. Namun, peningkatan timbulan sampah akibat MBG menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi.

Tantangan pengelolaan juga terlihat di wilayah dengan kepadatan aktivitas tinggi seperti Kecamatan Jatinangor, yang saat ini menghasilkan sekitar 20 hingga 30 ton sampah per hari. Dengan adanya MBG, angka tersebut diperkirakan ikut meningkat.

Selain volume, persoalan kesadaran masyarakat juga menjadi sorotan. Wabup Fajar mengakui, praktik pembuangan sampah sembarangan masih terjadi, termasuk di sungai.

“Kalau MBG berjalan tapi pemilahan sampah tidak disiapkan, masalah baru akan muncul. Edukasi dan sistem harus berjalan bersamaan,” ujarnya.

Baca Juga:Lesunya Penjualan Sapi Tak Halangi Pasar Hewan Tanjungsari Capai PAD 100 PersenLibur Sekolah, Pasar Malam di Alun-alun Tanjungsari Jadi Magnet Hiburan Keluarga

Dalam audiensi tersebut, PT Makmur Radhika menawarkan solusi pengolahan sampah melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yang mengolah residu sampah menjadi bahan bakar pengganti batu bara untuk industri semen dan pembangkit listrik.

0 Komentar