SUMEDANG EKPRES – TUHAN, kata para bijak bestari, surga Mu tak melulu diisi oleh orang baik, soleh, dermawan dan orang beriman. Konon surga Mu juga terbuka untuk para pendosa. Artinya neraka tidak mesti menjadi terminal para pendosa.
Benarkah begitu Tuhan? Bisa jadi itu benar, sebab Kau lah pemegang hak pereogratif mutlak-absolut tentang siapa yang berhak masuk surga dan neraka Mu.
Tapi tentunya Engkau tak akan memberi dengan cuma-cuma, hak pereogratif Mu. Dan bukan berarti, Kau bisa dibeli, agar semua orang bisa dengan gampang masuk surga Mu atau membeli keputusan Mu.
Baca Juga:Pengangguran OTD Waduk Jatigede Masih Jadi Permasalahan di SumedangAkhir Pekan Lebih Mudah Urus Tanah Sendiri Lewat Program PELATARAN
Seperti keputusan para hakim di negeri ini, yang “katanya” bisa dibeli. Walau tak bisa dibeli, Engkau tetap memberi kemudahan kepada siapapun yang mau, melangitkan hajatnya.
Nah soal surga dan neraka, jujur saja Gusti, aku ini penganut madzhab Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami alias Abu Nuwas. Dalam teori kesalehan konvensional, aku ini tak masuk nominasi ahli surga.
Mengingat aku ini tak bisa melepas dan menolak godaan syahwat. Walau sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja kadang terpeleset masuk kamar para pendosa. Tapi Wahai Yang Maha Pengasih, jelas aku ini tak sanggup Kau jebloskan dengan bonus ditendang pantatnya hingga nungging, ke neraka jahannam. Aku tak kuat walau sedikit saja mencium hawa al-Jahim. Jadi kasihilah aku.
Tuhan, sungguh aku hanya mengharap rahmat Mu. Jadi bantulah hamba Mu ini untuk bertaubat nasuha.
Bukan taubat sambal yang biasa kulakukan. Bisa jadi para pendosa seperti ku, ingin bertaubat dan jika sudah dapat sertifikat taubat nasuha, bisa juga surga kumasuki.
Tapi tak mudah juga mendapat sertifikat itu. Karena tidak bisa dibeli, seperti ijazah atau sertifikat lainnya yang konon bisa dibeli alias “bodong”. Sertifikat taubat itu konon menurut para pendakwah, membutuhkan proses penyucian diri seumur hidup. Jadi bantulah aku untuk bisa selalu bertaubat, Rabb.
Ya Bathin, wahai yang maha penutupi segala kekuarangan dan aib. Lagi-lagi ini soal kualitas aku, hati ku, syahwatku dan aib-aibku. Yang tetap ku saksikan akan Ke-Mahaan Mu adalah, Kau berikan kasih sayang tak hingga, hingga Kau tetap tutupi aib-aibku. Gusti, jangan sekali-kali kau buka aibku ya. .
