Di usia senja, Try Sutrisno tak pernah padam. Ia menjaga api Pancasila, lewat UKP-PIP, lalu BPIP. Baginya, Pancasila bukan hafalan, bukan slogan. Ia adalah pegangan hidup.
“Tidak seorang pun akan berjiwa Pancasila jika tidak memperjuangkan dan mempraktikkannya,” katanya. Kalimat sederhana, tapi menghentak.
Karena Pancasila, bagi Try Sutrisno, harus hadir dalam sikap, tercermin dalam setiap kebijakan. Pun dalam cara memerlakukan sesama.
Baca Juga:SMPN 2 Cimalaka Implementasikan PancawaluyaKementerian ATR/BPN Evaluasi dan Perkuat Penyelenggaraan Layanan Pertanahan di Mal Pelayanan Publik
Pesannya begitu tajam dan dahsyat melebihi rudal Iran yang menghanguskan infrastruktur militer US dan Israel. Dan lebih pedas dari sambal bebek Madura-Surabaya.
Ia mengajarkan keteguhan sikap, integritas dan kesederhanaan. Sebagai pejabat, ia menolak error karena godaan kekuasaan; korupsi, kolusi dan aji mumpung.
Sebagai panglima ia tegas tapi bijak. Ia membuktikan bahwa hidup bukan soal banyak bicara, tapi soal kapan bicara dan tak asal bicara.
Pesan terakhirnya kepada insan BPIP: “Saya ingin menekankan kepada seluruh anak-anakku di BPIP untuk benar-benar memahami pentingnya menjaga integritas moral dan perilaku dalam melakukan tugas kita, harus berkomitmen pada diri sendiri untuk selanjutnya.
Komitmen tersebut akan menjadi komitmen bersama yang akan menjaga marwah keberadaan pembinaan ideologi Pancasila”.
Pesan dan sekaligus warisan yang berharga. Pun sulit untuk dilakukan. Sebab integritas saat ini barang paling langka dan antik yang sulit ditemukan.
2 Maret 2026 lalu, tepat 10 tahun ketika Kau bicara dengan Mas Ceppy, untuk menitipkan perjuangan menjaga Pancasila dan UUD 1945, Kau dipanggil Sang Khalik.
Baca Juga:Wamen Ossy Soroti Pentingnya Komitmen dalam Pelayanan Publik di Kanwil BPN Provinsi Sumatera UtaraPemdes Citimun Targetkan 3 Unit Rutilahu
Selamat jalan Pak Jendral Try Sutrisno, Wakil Ketua Dewan Pengarah, Kau lah teladan integritas, kesederhanaan dan kecintaan kepada bangsa, bagi kami. Kaulah manusia Pancasila seutuhnya.(Kang Marbawi, 040426)
