Lelaki Kecilku

Lelaki Kecilku
Jaman memang sudah berubah. Orang tua jadul tak kenal istilah “family time”. Anak-anak lebih banyak main dengan teman sebayanya.( ILUSTRASI).
0 Komentar

SUMEDANG EKPRES – Jaman memang sudah berubah. Orang tua jadul tak kenal istilah “family time”. Anak-anak lebih banyak main dengan teman sebayanya.

Main di kali, sawah, kebun, nyari siput, jangkrik, atau petak umpet dengan area hampir sekampung. Pokoknya seru!

Tapi sekarang beda, anak umur kurang dari satu tahun saja, sudah diberi gajet. Lebih karena agar “orang tuanya” tenang kerja atau sama-sama tenang mantengin media sosial (medsos).

Baca Juga:Polres Sumedang Gelar KRYD Gabungan, Fokus Patroli Edukasi dan Antisipasi Gangguan KamtibmasPolres Sumedang Sampaikan Perkembangan Terkini Penanganan Longsor Cadas Pangeran

Jadi sejak usia dini anak sudah diasuh medsos. Ngumpul dengan teman sebayanya pun sambil pegang gajet. Seolah gajet adalah jimat yang tak boleh lepas dan harus dibawa ke mana pun.

Pantas anak sekarang gampang tantrum. Apalagi kalau diambil gajetnya. Ngamuk sejadi-jadinya, hingga bikin orang tuanya senewen dan ikut tantrum. Lelaki kecilku pun sama, sudah tantrum youtube anak-anak.

Saat ini, waktu dengan keluarga bagi keluarga di perkotaan, umumnya sepulang kerja atau di akhir pekan.

Bahkan ada yang sama sekali tak punya waktu, karena kalau di rumah sibuk dengan medsos atau kerjaannya. Anak pun sibuk dengan gajetnya masing-masing.

Hingga orang tua tak pernah tahu apa yang dibuka, diakses dan dilihat anaknya di medsos. Padahal tak semuanya baik. Diam yang berisik, dekat yang tak terkoneksi tapi yang jauh terhubung.

Nah, cerita ini bukan narsis. Apalagi fleksing. Usai mandi, saya solat Magrib berjamaah di musola dekat rumah.

Tentu dengan mengajak lelaki bungsu ku, sebagai bagian dari pendidikan sejak dini dan interaksi sosial. Selepas Isa, beranjak ke peraduan.

Baca Juga:Samsat Sumedang berlakukan pembayaran PKB Tanpa KTP Pemilik LamaMenteri Nusron Imbau Kepala Daerah dan Masyarakat NTB Gotong Royong Mutakhirkan Data Pertanahan

Kami bukan seperti kebanyakan orang yang anak-anak nya punya kamar tersendiri. Jadi di tempat tidur inilah, kedekatan itu terasa lebih intens dengan anak bungsu ku yang baru berumur empat (4) tahun. Setelah sebelumnya bercengkrama dengan kakaknya yang lain.

Walau kasur di rumah tak lebar dan pas mepet tembok kanan kiri serta ujungnya, tempat tidur menjadi panggung bagi si bungsu.

Kadang kami main perang bantal, perang bayangan tangan berbentuk binatang atau apa pun.

0 Komentar