Memburu imaginasi lelaki kecil ku, dengan senter hand phone diiringi cerita khayal sepontan. Kemah selimut dan bantal atau kadang di selingi permintaan ini-itu dari bungsu ku.
Tak lupa ku selipkan permintaan membaca abjad, angka dan huruf hijaiyah pada poster yang ditempel di tembok dengan seadanya. Kelupas lakban di poster yang tak lagi menempel pada tembok membuat poster mengayun-ayun.
Awut-awutannya sprei dan bantal setelahnya, adalah output dari “family time ku”.
Baca Juga:Polres Sumedang Gelar KRYD Gabungan, Fokus Patroli Edukasi dan Antisipasi Gangguan KamtibmasPolres Sumedang Sampaikan Perkembangan Terkini Penanganan Longsor Cadas Pangeran
Tak selalu begitu, lelaki kecilku,kadang ngoprek mainan lego, mobil hot wheels nya atau square puzzlenya.
Alhamdulillah masih bisa membelikan mainan walau tak mahal. Kadang hingga jauh malam, sikecil bermain apa saja. Sementara mata ku dan istriku sudah lima (5) watt alias ngantuk berat plus diiringi omelan sayang, ajakan untuk tidur.
Tak jarang, kami tertidur, sementara dia masih asyik dengan mainannya dan kemudian dia pun tertidur di tengah-tengah kami. Itulah duniaku dengan sibungsuku. Tak selalu tiap malam, karena kadang aku tertidur lebih dulu.
Konon sampai usia lima (5) tahun, adalah usia golden age. Saya sendiri berusaha memaksimalkan kesempatan untuk selalu bisa dengan sikecil, hingga batas dia memiliki dunianya sendiri.
Dan soal dunianya sendiri itu, saat ini semakin cepat mereka miliki.
Dunia mereka terbentuk di gajet, game dan medsosnya. Orang tua tertinggal dan ditinggal jauh oleh mereka. Mereka hanya datang ketika butuh kuota dan keperluan lainnya.
Tak satu pun wejangan dari orang tua yang nyangkut di benak mereka. Karena mereka lebih terpengaruh dan mengikuti konten diplatform medsos.
Baca Juga:Samsat Sumedang berlakukan pembayaran PKB Tanpa KTP Pemilik LamaMenteri Nusron Imbau Kepala Daerah dan Masyarakat NTB Gotong Royong Mutakhirkan Data Pertanahan
Membentuk perspektifnya sendiri, yang lebih condong pada kepentingan dan maunya sendiri. Orang tua kadang terabaikan. Melahirkan penolakan pada nasehat dan teguran dari orang tua.
Disinilah kami berusaha memaksimalkan, usia sikecil agar bisa nempel terus dengan kami-orang tuanya dengan tetap diajarkan kemandirian dan teladan.
Sebab pada masanya yang tak akan lama lagi datang -bahkan bisa datang lebih cepat, dia hampir tak bisa disentuh orang tuanya.
Mengajaknya buang sampah, ke pasar, ke tempat kerja, tempat tidur dan waktu sebelum tidur adalah waktu terbaik kami membangun masa depan sikecil. Pun waktu makan bersama, dengan kakaknya.
