SUMEDANGEKSPRES – Lebih dari 400 santri dan kiyai dari Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah Cilongok Kabupaten Tangerang, Banten, bertandang ke Keraton Sumedang Larang, Rabu (23/9).
Rombongan yang dipimpin KH Rd. Totoh Tohawi Romli itu, datang untuk silaturahmi sekaligus wisata religi.
Mereka disambut keluarga besar Keraton Sumedang Larang dengan kesenian khas kerajaan.
Baca Juga:Baznas RI dan Pemkab Sumedang Perkuat Sinergi, Dorong Mustahik Naik Kelas Jadi MuzakiBaznas RI Siapkan Program Lumbung Pangan di Sumedang, Petani Tanjungmedar Jadi Sasaran
Pertemuan pun menjadi kesempatan untuk kembali membuka lembaran sejarah Sumedang, terutama hubungan antara budaya Sunda dan perjalanan syiar Islam.
Sri Radya R.H.I. Lukman Soemadisoeria mengatakan, sejarah dan budaya harus terus dijaga agar dikenal generasi mendatang.
“Yang terpenting adalah, menjaga bentuk dan nilai sejarahnya,” ujarnya.
Sementara Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga memaparkan perjalanan Sumedang Larang, mulai dari Tembong Agung hingga Prabu Geusan Ulun.
Bahkan, ia juga menjelaskan sejumlah peninggalan sejarah, termasuk Pedang Kimastak milik Prabu Tajimalela dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, yang diserahkan dari Kerajaan Sunda Pajajaran kepada Sumedang Larang pada 22 April 1578.
“Mahkota ini sebagai simbol keagungan adat istiadat budaya Sunda. Nilai kasih sayang merupakan sumber daya kehidupan yang melahirkan nilai silih asih, silih asah dan silih asuh,” kata Luky.
Menurut Luky, kunjungan Ponpes Al Istiqlaliyah memiliki benang merah sejarah dengan Sumedang.
Lantaran pendiri pesantren tersebut disebut memiliki garis keturunan dari Pangeran Wangsakara atau Pangeran Tengger, yang dikenal sebagai Pangeran Wiraraja II dan disebut sebagai cucu Prabu Geusan Ulun.
Baca Juga:Siap-siap, Warga Cibugel Punya Akses Jalan Mulus ke Darmaraja: Dongkrak Pertumbuhan EkonomiRevitalisasi SDN Cikareo ll, Bupati Sumedang Pastikan Fasilitas Belajar Nyaman
“Pertemuan ini bukan sebuah kebetulan, tetapi memang sudah ditakdirkan,” ungkap Luky.
Luky berharap, hubungan tersebut semakin memperkuat sinergi antara pesantren dan keraton dalam menjaga budaya sekaligus mengembangkan syiar Islam.
“Syiar Islam dengan pendekatan budaya ini harus disatukan. Agama dan budaya harus selaras,” imbuhnya.
Di tempat sama, KH Ahmad Humaini yang mewakili keluarga besa Pesantren Al Istiqlaliyah menyampaikan rasa syukur atas kesempatan tersebut.
Menurutnya, kunjungan itu menjadi momentum mempererat kekeluargaan sekaligus mengenal lebih dekat warisan adat Sunda.
“Kami datang untuk silaturahmi, menguatkan kekeluargaan dan mengenal warisan adat Sunda yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
