Ia menjelaskan, penerapan sistem shokuiku di Sumedang masih dalam tahap uji coba dan belum menjadi kebijakan yang ditetapkan untuk seluruh sekolah.
Karena itu, diperlukan kajian yang cermat untuk membandingkan efektivitas sistem prasmanan dengan pola distribusi makanan yang selama ini berjalan.
Menurut Dony, pendekatan tersebut terinspirasi dari praktik penyelenggaraan pendidikan dan kebiasaan makan di Jepang. Namun, penerapannya di Sumedang tetap perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah, kesiapan SPPG, serta kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Baca Juga:Demi Menguasi Mobil, Dua Remaja di Sumedang Nekat MembunuhRobinhood Sapi Asal Sumedang Berbobot 1,4 Ton Taklukkan Kontes Nasional Piala Presiden 2026
“Kita uji coba terlebih dahulu karena sistem ini belum ditetapkan untuk diterapkan secara menyeluruh.
Kita ingin melihat apakah ada manfaat yang lebih besar, termasuk dalam menjaga kualitas makanan dan meminimalkan potensi persoalan dalam pelaksanaan MBG. Jika hasilnya menunjukkan perbaikan, tentu akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan lebih lanjut,” ungkapnya.
Bupati berharap hasil evaluasi uji coba sistem shokuiku dapat memberikan gambaran yang objektif mengenai kelebihan, tantangan, serta aspek yang perlu disempurnakan sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sumedang akan terus mendorong perbaikan pelaksanaan program MBG agar tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menjamin kualitas pelayanan, keamanan pangan, dan kenyamanan siswa.
“Prinsipnya, kita terus melakukan perbaikan. Setiap inovasi harus diuji, dievaluasi, dan disempurnakan agar program MBG semakin berkualitas serta benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
