oleh

Mengukur potensi dan Strategi Pengembangan Pariwisata Di Jabar

SUMEDANGEKSPRES.COM –  Masa pandemi belum berakhir, namun tuntutan yang dihadapi saat ini, kesehatan harus pulih, ekonomi juga harus bangkit.

Kondisi faktual yang terjadi beberapa bulan terakhir antusias masyarakat di sektor pariwisata sangat tinggi. Hal ini, dibuktikan dengan ribuan orang mendatangi objek wisata di beberapa wilayah di Jabar.

Berkaca dari kondisi itu, pemulihan ekonomi masih ada harapan . Salah satunya didukung dengan dukungan sektor pariwisata.

“Di era pandemi Covid 19 yang saat ini belum berakhir, hal yang dibutuhkan adanya strategi, dengan orientasi “pengembangan pariwisata sinergi dengan pemulihan kesehatan,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Jabar, Heri Ukasah Sulaeman, dalam keterangannya kepada media baru-baru ini.

Merujuk kepada laporan yang diterima pihak Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, ungkap Heri dalam tahun 2020, dimana dalam kondisi itu keadaan di berbagai sektor telah terdampak Covid 19, sektor pariwisata ternyata masih bisa bertahan.

“Hal ini, dibuktikan dengan kontribusi pariwisata pada PDRB, dari target 2,65 persen, realisasinya mencapai 2,85 persen,” tuturnya.

Keberhasilan juga nampak dari jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Jabar baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara.

“Realisasi jumlah kunjungan wisatawan , untuk wisatawan mancanegara dari target 30.000, realisasinya mencapai 31.610 atau mencapai 105,37 persen,” terang dia.

Sementara untuk kunjungan wisatawan Nusantara, dari Target 15.000.000, realisasinya mencapai 35.513.885 atau mencapai 236,76 persen.

“Indikator keberhasilan ini, dengan mensinergikan dengan program yang direalisasikan , dari laporan yang diterima ada korelasi dengan ketercapaian program dari Target yang sudah ditentukan,” kata politusi Partai Gerindra itu menuturkan.

Program itu antara lain, destinasi wisata dari target 1,47 persen, realisasinya mencalai 1,47 persen serta promosi pariwisata dari Target 9,52/2, realisasinya mencapai 52,38 persen/11.

Heri, lebih lanjut mengatakan melihat antusias masyarakat berkunjung ke objek wisata, yang terpantau selama masa libur lebaran, lebih banyak ada di kawasan wisata pantai.

“Kondisi ini, berdampak pada munculnya kerumunan di objek wisata tertentu. Dalam masa pandemi Covid 19, hal ini harus dihindari, agar tak menyebabkan munculnya kasus Covid 19,” ungkapnya.

Sebagai solusi untuk mengatasi persoalan ini, Pemprov. Jabar perlu terus memperkuat promosi pariwisata di daerah-daerah yang saat ini belum cukup didatangi masyarakat.

Penguatan promosi, bisa dilakukan di kawasan wisata alam lain seperti pegunungan, serta promosi desa wisata terutama di desa yang saat ini masih memiliki keunikan adat dan budaya.

“Untuk promosi pariwisata, dengan trend sasaran kalangan milineal , perlu diperkuat dengan sarana digital,” terang Heri.

Pemerintah Provinsi Jabar, sambung Heri sudah beberapa tahun ini sudah meluncurkan program pengembangan desa wisata.

“Dalam rangka pemerataan pembangunan , harapannya setiap Kabupaten di Jabar, sudah mempunyai desa wisata,” ujarnya.

Diyakini desa mempunyai keunikan tersendiri, agar desa wisata bisa maksimal dikembangkan, perlu dikolaborasikan dengan BUMD.

“Beberapa BUMD yang bisa dikerjasamakan PT Jaswita untuk mengembangkan potensi wisata dan PT Jabar Agro untuk mempromosikan berbagai potensi pangan yang ada di desa itu,” katanya.

Melalui pengembangan potensi pariwisata serta didukung oleh program rutin , agar sektor pariwisata bisa berkembang pesat, dalam masa pandemi perlu didukung oleh terobosan dalam skala besar.

“Penerapan protokol kesehatan secara ketat, itu sarat mutlak yang harus dilakukan baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat,” tuturnya.

Masyarakat ketika datang ke objek wisata, mutlak harus menggunakan masker secara tertib, menjaga jarak dan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi munculnya kerumunan.

Sementara itu, bagi pelaku usaha, kewajiban yang harus dipenuhi menyediakan pojok cuci tangan, menyediakan hand sanitizer dan menyiapkan langkah pengamanan agar tidak terjadi kerumunan.

“Pelaku usaha, juga dituntut untuk menyediakan tur virtual , membatasi jumlah pengunjung dengan pendaftaran secara online,” katanya.

Sektor pariwisata , ujar Heri juga diharapkan dapat mendukung pengembangan ekonomi kreatif. Dukungan di masa pandemi Covid 19, bisa diberikan dalam bentuk penguatan platform digital. (adikarya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *