Menelusuri Penurunan Hasil Panen Padi di Tengah Turunnya Harga Gabah di Sumedang

Menelusuri Penurunan Hasil Panen Padi di Tengah Turunnya Harga Gabah di Sumedang
Menelusuri Penurunan Hasil Panen Padi di Tengah Turunnya Harga Gabah di Sumedang(flickr.com)
0 Komentar

sumedangekspres – Musim panen padi tahun ini menandai suatu kekhawatiran bagi sebagian petani di Sumedang. Mereka melaporkan bahwa hasil panen mereka mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya.

Keluhan ini menjadi semakin memprihatinkan mengingat harga gabah yang belakangan juga merosot, bahkan menyentuh angka Rp. 600 ribu per kwintal, atau bahkan lebih rendah.

Menelusuri Penurunan Hasil Panen Padi di Sumedang

Ade, seorang petani yang berasal dari Sirnamulya, Sumedang Utara, menceritakan pengalamannya.

Baca Juga:Langkah Awal Menuju Indonesia Emas 2045, Keselarasan Musrenbangnas dan Musrenbang Sumedang!Kebocoran Informasi! Penerima BPNT April Langsung Dapat Bantuan Lagi Bulan Depan?

Dengan lahan pertaniannya yang berada di sekitar Islamic Center Kotakulon, Sumedang Selatan, Ade menyaksikan secara langsung penurunan hasil panen padi yang cukup mencolok.

“Biasanya, 1 bata hasilnya bisa mencapai 10 kg, tapi kali ini, saat panen terakhir, saya melihat penurunan yang cukup drastis.

Paling hanya sampai 6 – 7 kg saja,” ungkap Ade pada hari Rabu, 8 Mei 2024.

Ade menduga bahwa penurunan ini disebabkan oleh faktor cuaca, terutama karena adanya hujan dan angin kencang saat malai, yang mengganggu pertumbuhan dan kualitas hasil panen.

Bagi Ade, penurunan hasil panen ini merupakan beban tersendiri, terutama mengingat harga gabah yang juga turun.

Namun, dia merasa beruntung karena ia tidak terlalu mengandalkan tenaga orang lain dalam mengelola lahan pertaniannya di sawah.

Hal ini memungkinkannya untuk mengurangi pengeluaran yang harus dikeluarkan.

“Jika saya mengandalkan tenaga orang lain untuk menggarap sawah, tentu modal yang dikeluarkan akan lebih besar,” tambahnya.

Baca Juga:Tiga Desa di Sumedang Bersiap Membentuk Desa Persiapan: Langkah Menuju Pemekaran DesaSumedang Bergerak Menuju Zero Kemiskinan Ekstrem dengan Rakornis Pengentasan Kemiskinan

Meskipun demikian, Ade tetap bersyukur karena kondisi sawahnya memungkinkan untuk melakukan penanaman padi hingga 3 kali dalam setahun, berkat sistem pengairan yang baik.

Kisah Ade merefleksikan tantangan yang dihadapi oleh banyak petani di Sumedang, dan mungkin juga di berbagai daerah lainnya.

Penurunan hasil panen yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cuaca yang tidak menentu, serta fluktuasi harga gabah, menjadi kekhawatiran yang nyata bagi keberlangsungan hidup mereka.

Dalam menghadapi tantangan ini, mungkin diperlukan langkah-langkah konkret, baik dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya, untuk memberikan dukungan kepada para petani dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian mereka.

Dengan demikian, harapan terhadap peningkatan hasil panen dan kesejahteraan petani bisa menjadi kenyataan di masa yang akan datang.

0 Komentar