Dari sisi pendidikan, karakteristik pengangguran di Sumedang menunjukkan paradoks. Meski secara jumlah pengangguran didominasi lulusan SMA/SMK, TPT tertinggi justru dialami lulusan pendidikan tinggi, yakni mencapai 11,21 persen.
Sementara itu, lulusan pendidikan dasar mencatat TPT terendah sebesar 2,98 persen, karena relatif lebih fleksibel terserap di sektor informal dan pertanian.
“Ini mengindikasikan masih adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan menengah dan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja daerah,” kata Sudiyanto.
Baca Juga:Pengangguran di Sumedang Didominasi Lulusan SMA, Sarjana Catat TPT TertinggiBelanja Pegawai Naik, PPPK Paruh Waktu Habiskan Rp53,5 Miliar
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan. Ketergantungan pada sektor industri dan jasa tanpa penguatan diversifikasi ekonomi dinilai meningkatkan kerentanan pengangguran, khususnya bagi tenaga kerja laki-laki usia produktif.
Penguatan pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri lokal, peningkatan kualitas UMKM produktif, serta penciptaan lapangan kerja nonformal bernilai tambah menjadi kunci menekan pengangguran ke depan.
“Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, tekanan pengangguran terutama pada kelompok laki-laki dan lulusan menengah ke atas berpotensi terus berlanjut,” pungkas Sudiyanto.(red)
