SUNYI subuh Rancaekek pecah mendadak. Pukul 05.00 WIB, deru keras tak biasa menggulung udara hingga Desa Linggar dan Desa Sukamulya. Bukan suara hujan, bukan kereta, apalagi petir. Suara itu terus meraung tanpa henti–hingga malam–membuat warga bertanya-tanya: ada apa di balik pagar kawasan industri PT Kahatex?
Pagi itu, Jumat (9/1/2026) Rancaekek belum sepenuhnya terjaga. Jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika suara asing tiba-tiba memecah sunyi. Bukan kokok ayam, bukan pula deru kendaraan. Suara keras dan panjang itu merambat hingga Desa Linggar dan Sukamulya, membuat banyak warga terbangun dengan rasa cemas.
Sebagian warga menggambarkannya seperti air bah datang, yang lain menyebut mirip kereta api melintas, bahkan ada yang menyangka longsoran gunung. Suara itu bukan hanya datang sesaat, melainkan terus terdengar tanpa jeda, berbeda dari hari-hari biasanya.
Baca Juga:36 Persen Warga Sumedang Merokok, Rata-rata Habiskan 78 Batang Rokok per MingguAngka Perokok di Sumedang Masih Tinggi, Belanja Rokok Lampaui Kebutuhan Pokok
“Biasanya tidak pernah seperti ini,” ujar seorang warga Desa Linggar, sebut saja Rohmat. Hingga siang berganti malam, sekitar pukul 20.00 WIB, suara tersebut masih setia menemani aktivitas warga, memantik pertanyaan dan kegelisahan.
Rasa penasaran pun mendorong sebagian warga mendekat ke sumber suara. Di sepanjang Jalan Nasional Rancaekek, tepat di depan kawasan industri, jawaban mulai mengerucut. Dari balik pagar dan bangunan besar, suara keras itu ternyata berasal dari PT Kahatex, salah satu pabrik tekstil terbesar di wilayah tersebut.
Beberapa warga di sekitar Cikijing, Desa Linggar, menyebutkan bahwa suara tersebut berasal dari aktivitas mesin di dalam kawasan pabrik. Meski demikian, belum semua warga mengetahui jenis kegiatan apa yang sedang berlangsung hingga menimbulkan suara berkepanjangan sejak subuh.
Meski sumber suara telah diketahui, keresahan belum sepenuhnya reda. Warga berharap ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah setempat agar tidak menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran berkepanjangan, terutama terkait kebisingan dan dampak lingkungan.
Di tengah padatnya kawasan industri Rancaekek, kejadian ini menjadi pengingat bahwa aktivitas industri dan kenyamanan warga perlu berjalan beriringan, saling menjaga, dan saling memberi ruang.(red)
