Sang Waktu 

Pojokan
Pojokan
0 Komentar

HIDUP ini, habis untuk scroll gadget saja. Seolah status orang adalah barang berharga yang pantang dilewatkan. Demi menyalurkan hasrat komen atas statusnya atau update status sendiri. Konten yang diunggah di media sosial (medsos) menjadi menu utama untuk dilihat. Tak menyesal menghabiskan waktu berjam-jam “mantengin” medsos atau game. Kelakuan yang hanya menguntungkan pengunggah konten serta penyedia aplikasi. Scroll medsos atau main game menjadi kegiatan utama, sementara kerja hanya sampingan. Itu pun kalau disuruh bos. Kelakuan ini merasuki semua orang, dari berbagai usia tua-muda-anak-anak-balita, selebritis, tokoh, pejabat hingga orang biasa.

Rasanya, kita tak sanggup untuk tak melihat medsos barang semenit pun. Bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Ketika melakukan aktivitas apapun, melihat status medsos menjadi ritual wajib. Walau tak ada yang penting di dalamnya. Herannya kita tak sadar dan terbuai. Seolah konten di medsos adalah kiriman dari surga yang bisa melupakan segala penat dan beban hidup.

Waktu “nutul” medsos/gadget kita adalah komoditas yang ditambang oleh aplikasi dan konten kreator. Kita terperangkap, terjebak, bahkan terjerat menjadi adiksi dalam jebakan algoritma. Algoritma mengarahkan dan menyekap kita. Aktivitas medsos kita dipantau algoritma. Hasilnya, di gadget kita ternotiv segala hal yang berkaitan dengan jejak digital kita.

Baca Juga:Libur Tahun Baru Dongkrak Aktivitas Memancing di Jatigede, Spot Favorit jadi RebutanKetahanan Pangan Indonesia 2026: Refleksi Ekonomi di Tengah Tantangan Sistemik

Algoritma medsos mengubah waktu dan hidup kita menjadi ilusi. Menegaskan apa yang disampaikan si gondrong jabrig-Albert Einstein bahwa kita terikat ruang dan waktu. Algoritma mengembangkan sabda Imanuel Kant, orang Jerman yang brewok itu menyatakan, waktu -termasuk“mlototin” medsos, menyatu dalam akal budi dan pikiran. Dan keduanya disatukan algoritma dalam Ilusi waktu yang dibuang percuma di dunia maya. Menjadi simulacranya Jean Baudrillard.

Waktu di dunia simulacrum menjadi bias. Seperti disampaikan filsuf St. Agustinus bahwa kita secara bersama-sama terikat pada waktu objektif – detik, menit, jam, hari, bulan hingga tahun, menjadi subjektif – waktu yang “terasa”. Waktu menjadi terasa singkat ketika tangan, mata dan pikiran terpaku pada medsos atau bersama pacar. Berjam-jam pun dijabani. Asal tak diganggu hajat alami. Bahkan panggilan Tuhan pun diabaikan. Sementara ketika menunggu antrian atau terjebak macet, waktu seolah berhenti.

0 Komentar