Dari Uang Receh Lahirlah Pengkhianatan

Ilustrasi
Ilustrasi
0 Komentar

Oleh: Reza Andara, Siswa Kelas X, SMK Bina Harapan Sumedang

Di papan tulis tertulis besar dan jelas:

Iuran Kegiatan Kelas: Rp15.000

Tak ada yang mengeluh. Jumlah itu kecil, nyaris tak berarti bagi siapa pun di kelas XI itu. Beberapa bahkan menyerahkannya sambil bercanda, seolah uang itu tak lebih dari sisa jajan.

Rani berdiri di depan kelas dengan buku kas di tangan. Ia bendahara kelas–rapi, pendiam, dan selama ini dipercaya. Satu per satu uang berpindah ke tangannya. Ada yang lecek, ada yang masih baru. Saat dihitung, jumlahnya lebih dari cukup. Selalu begitu. Selalu ada sisa.

Ran, sisanya buat apa?” tanya Dimas sambil tertawa kecil.

Baca Juga:Gugatan Perdata Dugaan Utang Rp35 Miliar Didaftarkan ke PN Bandung, Libatkan Bupati CirebonRp145 Miliar Digelontorkan untuk Bansos, Sejumlah Warga Sumedang Mengaku Belum Tersentuh Bantuan

Rani sempat terdiam. Pandangannya turun ke lembaran uang receh di telapak tangannya.

Paling buat keperluan kelas,” jawabnya pelan.

Tak ada yang bertanya lagi.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Iuran kembali dikumpulkan untuk kegiatan lain. Lagi-lagi ada sisa. Lagi-lagi uang itu tak tercatat. Jumlahnya kecil–beberapa ribu rupiah saja. Tak cukup untuk membeli apa pun yang besar. Namun cukup untuk membuat hati Rani gelisah, lalu lama-lama terbiasa.

Cuma sedikit, bisik hatinya.

Tak ada yang dirugikan.

Diam kelas adalah pembenaran paling nyaman.

Kebiasaan itu tumbuh tanpa disadari. Receh demi receh berpindah tangan, lalu menghilang. Rani tak merasa mencuri. Ia merasa “meminjam tanpa izin”, meski tak pernah berniat mengembalikan.

Hingga suatu hari, kelas membutuhkan dana mendadak untuk lomba antar sekolah.

Wali kelas berdiri di depan, menatap buku kas dengan dahi berkerut.

Uangnya tidak cukup,” katanya heran. “Padahal ini hasil iuran kalian sendiri.”

Kelas mendadak sunyi. Beberapa siswa saling menatap. Ada yang mulai menghitung dalam kepala. Kecurigaan perlahan menggantung di udara.

Baca Juga:Warga Sumedang Menjerit di Tengah Ekonomi Lesu, Bantuan Sosial Tak Kunjung Datang, di Mana Pemerintah?Terbuat dari Emas dan Penuh Filosofi Hidup, Ini Bentuk Mahkota Binokasih yang Sarat Makna

Rani duduk kaku. Tangannya dingin, napasnya pendek. Untuk pertama kalinya, uang receh itu terasa berat. Bukan karena nilainya–melainkan karena maknanya. Yang diambilnya bukan sekadar uang, melainkan kepercayaan.

Ia tahu, diam kali ini adalah kebohongan yang paling besar.

0 Komentar