Warga Sumedang Menjerit di Tengah Ekonomi Lesu, Bantuan Sosial Tak Kunjung Datang, di Mana Pemerintah?

Bansos sumedang
PASRAH: Suhana (56), warga Lingkungan Talun RT 01/RW 04, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara, tengah menampilkan surat permohonan pembuatan SKTM kepada desa dan kelurahan serta surat permintaan bantuan kepada Baznas Sumedang.(istimewa)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Di tengah lesunya perekonomian nasional, beban hidup masyarakat kecil di Kabupaten Sumedang kian terasa berat. Harga kebutuhan pokok relatif mahal, lapangan pekerjaan semakin sempit, sementara daya beli masyarakat terus menurun.

Bagi sebagian warga, peningkatan kesejahteraan kini bukan lagi target utama: bisa bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah dianggap keberuntungan.

Di sejumlah kecamatan, keluhan serupa terus bermunculan. Warga kurang mampu mengaku belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, meski kondisi ekonomi keluarga mereka semakin terjepit.

Baca Juga:Terbuat dari Emas dan Penuh Filosofi Hidup, Ini Bentuk Mahkota Binokasih yang Sarat MaknaTernyata Ada Tempat Ini di Sumedang, Lokasinya Mudah Dijangkau dan Tiketnya Terjangkau

Himpitan ekonomi itu dialami Suhana (56), warga Lingkungan Talun RT 01/RW 04, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara. Pria yang kini hidup sebagai duda cerai itu harus menanggung empat orang anak dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas.

Ditemui di rumahnya pada Sabtu, 17 Januari 2026, Suhana bercerita dengan suara lirih. Ia mengaku tak lagi mampu menjadi tulang punggung keluarga.

“Dulu saya yang jadi tulang punggung keluarga. Sekarang sudah tidak mampu lagi. Usia bertambah, kesehatan juga terganggu,” tuturnya.

Suhana mengatakan, dirinya kini mengalami gangguan kesehatan yang mengarah pada gejala stroke. Kondisi itu membuatnya tidak bisa bekerja secara normal untuk menafkahi keluarga, termasuk dua anaknya yang masih berusia sekolah.

Dari empat anak Suhana, satu anak sudah berkeluarga, namun dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Anak keduanya yang perempuan menganggur, sementara anak ketiganya terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya.

“Anak laki-laki saya tidak bisa lanjut ke SMA karena tidak punya biaya. Sekarang menganggur,” ucapnya.

Yang paling menyayat hati, anak bungsunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar harus berangkat sekolah tanpa seragam dan perlengkapan yang memadai.

Baca Juga:Balong Hardi Sumedang, Destinasi Pemancingan dan Wisata Keluarga Favorit di Kota TahuPuluhan PJU Mati Total, Jalan Provinsi Parakanmuncang–Simpang Gelap dan Dikeluhkan Warga

“Buat beli seragam dan perlengkapan sekolah saja tidak ada,” katanya.

Dalam kondisi terdesak, Suhana mengaku sudah berupaya mencari bantuan, termasuk mengajukan permohonan ke Baznas Sumedang, namun hingga kini belum membuahkan hasil.

Ironisnya, meski tergolong keluarga kurang mampu, Suhana mengaku belum pernah merasakan sebagian besar bantuan pemerintah. Ia tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan, tidak mendapatkan bantuan beras, tidak terdaftar sebagai penerima PKH, dan sudah lama tidak menerima BLT.

0 Komentar