Oh MBG, Oh Ironi

Oh MBG, Oh Ironi
BGN (Badan Gizi Nasional) lahir dengan niat mulia: melawan stunting, memperkuat gizi rakyat, menyehatkan bangsa. Tapi di negeri ini, niat baik sering tersandung di meja rapat—dan jatuh tersungkur di meja makan pejabat.
0 Komentar

Sebab otak kosong pendidikan lebih berbahaya daripada perut lapar. Perut kosong bisa diisi nasi, otak kosong hanya bisa diisi propaganda.

Jangan sampai slogan manis BGN: “Anak sehat, bangsa kuat” hanya jadi stiker di pintu kulkas kosong.

Alih-alih menurunkan stunting, yang turun justru kepercayaan rakyat. Rakyat tersenyum getir: “Lawan stunting kok malah melahirkan stunting moral.” Bangsa ini stunting bukan karena kurang protein, tapi karena kelebihan hipokrisi.

Kekurangan gizi kejujuran, kurang vitamin empati, kelebihan lemak keserakahan.

Baca Juga:Penutupan Latsarmil Komcad Gelombang I 2026, Wamen Ossy Sebut Latsarmil Perkuat Karakter dan Integritas ASNTruk Tangki BBM Terbakar di Ruas Tol Cisumdawu Tidak Ada Korban Jiwa

Pak Presiden Prabowo di Rakor BGN, Sentul, 3 Juni 2026, sudah mengingatkan: “Program gizi harus dijalankan dengan hati dan integritas, bukan sekadar laporan keuangan.” Tapi di negeri ini, integritas sering kalah oleh intensitas: intensitas rapat, intensitas mark-up, intensitas selfie di depan spanduk program.

Semoga dapur gizi tak lagi jadi restoran pejabat. Kalau tidak, jangan salahkan bila bangsa ini tumbuh bukan jadi generasi emas, tapi generasi anemia—kenyang MBG, tapi lapar integritas.

Dan akhirnya, rakyat pun belajar satu hal: di negeri ini, nasi kotak bisa jadi kotak Pandora. Begitu dibuka, keluar bukan aroma lauk pauk, tapi aroma busuk korupsi.

Anak-anak tetap kurus, pejabat tetap gemuk. Bangsa ini pun terus berdoa, semoga suatu hari nanti dapur gizi benar-benar jadi dapur bangsa, bukan dapur rekening.

(Kang Marbawi, 060626)

0 Komentar