Oh MBG, Oh Ironi

Oh MBG, Oh Ironi
BGN (Badan Gizi Nasional) lahir dengan niat mulia: melawan stunting, memperkuat gizi rakyat, menyehatkan bangsa. Tapi di negeri ini, niat baik sering tersandung di meja rapat—dan jatuh tersungkur di meja makan pejabat.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – BGN (Badan Gizi Nasional) lahir dengan niat mulia: melawan stunting, memperkuat gizi rakyat, menyehatkan bangsa. Tapi di negeri ini, niat baik sering tersandung di meja rapat—dan jatuh tersungkur di meja makan pejabat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai investasi masa depan, tapi malah tenggelam oleh beat lagu TikTok “Mas Bahlil Ganteng” yang lebih renyah di telinga.

Ironi lagu “Mas Bahlik Ganteng” viral hingga ke Turki, sementara siswa kurus, tak bersepatu, kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia lemah versi OECD tak viral.

Baca Juga:Penutupan Latsarmil Komcad Gelombang I 2026, Wamen Ossy Sebut Latsarmil Perkuat Karakter dan Integritas ASNTruk Tangki BBM Terbakar di Ruas Tol Cisumdawu Tidak Ada Korban Jiwa

Lebih ironis lagi, dapur gizi berubah jadi dapur elit, rakyat cuma kebagian remah, sementara menu utama jadi bubuk rekening offshore.

Anak-anak menunggu nasi kotak, pejabat menunggu transferan dolar. Hasilnya MBG di-KO bukan oleh stunting, melainkan oleh Kejaksaan Agung. Kepala BGN dan dua wakilnya digelandang. Bukan ke dapur gizi, tapi ke dapur hukum.

Angka-angka yang mestinya menimbang berat badan anak, justru menimbang berat amplop tender. Statistik pun bicara: harga satuan MBG Rp15.000 per siswa, tapi yang tersaji Rp10.000. Audit bayangan menyebut kebocoran 20–30%. Anggaran MBG: Rp85,27 triliun (2025), Rp268 triliun (2026).

Total Rp353,27 triliun. Angka ini bukan sekadar deret, tapi wajah kurus di pelosok. Vitamin lebih banyak tersangkut di meja pejabat ketimbang di mulut anak-anak.

Tender pengadaan makanan bergizi dimenangkan kroni. Laporan gizi penuh vitamin A, kenyataan penuh vitamin “Asal Bapak Senang.

” Anak-anak kurus jadi poster kampanye, wajah ceria makan MBG. Yang gemuk? Rekening pejabatnya. Padahal MBG sejatinya dapur masa depan bangsa.

Kalau korupsi terus menggerogoti dapur gizi, itu sama saja merampok nalar anak bangsa. Siap-siap saja anak tumbuh dengan otak lapar.

Baca Juga:Hadiri Milad ke-26 YASPIDA, Menteri Nusron: Santri Harus Siap Menjadi Ulama, Teknokrat, dan Pemimpin BangsaKenali Prosedur dan Syarat Pemecahan Bidang Tanah

Andai saja anggaran ratusan triliun itu tidak hanya untuk isi perut 64,47 juta siswa (dari TK/RA sampai SMA/Aliyah), tapi juga otaknya diisi dengan kewajiban membaca buku, bukan main TikTok.

Gurunya di-upgrade, kesejahteraannya dinaikkan, maka lahirlah generasi emas, bukan generasi anemia: kenyang hiburan, tumpul otak.

0 Komentar