Pengawasan sekolah adalah lampu jalan: jika lampu padam, jalanan jadi rawan. Begitu pula pengawasan yang lemah: anak-anak berjalan dalam gelap, dan satu di antaranya tersandung hingga tak bangun lagi.
Bangunan sekolah tampak megah dari luar, tetapi di sudut sepi depan kamar kecil, ada balok yang retak dan runtuh, merenggut nyawa seorang anak. Pelaku dan korban sama-sama balok rapuh yang membutuhkan rakitan kasih sayang dan bimbingan.
Ruang kelas-sekolah, harus dikembalikan fungsinya sebagai rahim kebudayaan yang melahirkan generasi bangsa yang beriman kuat, humanis, inklusif, kritis, ramah, empati dan bertanggungjawab. Sebab di luar kelas, adalah ring kehidupan yang mengajarkan sebaliknya. Namun, sistem pendidikan kita lebih sibuk menghitung angka ujian ketimbang menghitung luka di hati anak-anak.
Baca Juga:Gerak Jalan Pererat KebersamaanSatpol PP Sita 163 Botol Miras
Bangsa ini rajin merakit lego demokrasi di gedung parlemen, tapi lupa menaruh lampu di kamar kecil sekolah.
Para pejabat sibuk menimbun emas, sementara anak-anak kehilangan kesempatan merakit dunianya. Kalau begini, jangan salahkan kalau bangsa ini kelak hanya punya bangunan besar bernama Museum Keserakahan, dengan koleksi utama: lego retak dan anak-anak yang tak sempat dewasa.
Pemalang adalah realitas pahit. Kita sedang membangun masyarakat dengan balok-balok yang retak. Jika tidak segera diganti dengan balok kasih, empati, dan pengawasan, maka bangunan bangsa ini akan terus roboh di atas tubuh anak-anak yang menjadi korban.
Masa depan bukan ditentukan oleh batangan emas di brankas, melainkan oleh balok lego yang dirakit dengan kasih sayang. Dan anakku sudah memberi pelajaran sederhana: “Ini duniaku.” Kalimat itu adalah manifesto kecil, lebih berharga daripada 74 kilogram emas.
Ia mengingatkan kita bahwa dunia anak-anak bukan sekadar mainan, melainkan fondasi bangsa. Jika kita lalai menjaga lego mereka, maka yang runtuh bukan hanya bangunan kecil di Pemalang, melainkan seluruh rumah besar bernama Indonesia.
