Surabi Ajul, Hangat dari Tungku Sejak Subuh

Surabi Ajul, Hangat dari Tungku Sejak Subuh
SIAP SANTAP: Ajul mempertahankan cara tradisional memasak surabi menggunakan tungku kayu di Sukadana, Tanjungkerta.(Kiki/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES, TANJUNGKERTA – Ketika sebagian orang baru bersiap memulai hari, surabi Ajul sudah diburu pembeli. Asap tungku kayu mengepul, adonan dimasak perlahan, dan warga mulai mengantre sebelum dagangan itu habis.

Di Sukadana, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, surabi bukan sekadar pengganjal perut selepas subuh. Bagi pelanggan Ajul, ada rasa yang membuat mereka kembali: sederhana, lembut, dan dimasak dengan cara yang tak banyak berubah sejak usaha itu dirintis pada 2013.

“Surabi telur dan surabi oncom menjadi favorit warga. Ada juga surabi polos,” kata Ajul saat diwawancarai Sumedang Ekspres, Rabu, (14/10).

Baca Juga:Pegawai Setwan Disiapkan Bertugas di 424 TPSPengadaan Seragam Disoal Pemerhati Pendidikan Pertanyakan Legalitas Korlas 

Ajul memilih mempertahankan tungku kayu untuk memasak surabinya. Cara tradisional itu menjadi bagian dari proses yang ia jaga, bersama cita rasa yang selama ini dikenal pelanggannya.

Teksturnya lembut. Rasanya pas. Sambalnya pun menjadi pelengkap yang membuat surabi semakin nikmat disantap selagi hangat.

Menurut Ajul, pembelinya tak hanya datang dari lingkungan sekitar. Saat akhir pekan dan musim liburan, warga dari luar daerah juga singgah untuk mencicipi surabi buatannya.

Pilihan menunya sederhana. Ada surabi telur, surabi oncom, dan surabi polos. Harganya berkisar Rp2.500 hingga Rp4.000, bergantung pada varian. Pembeli juga bisa memilih gorengan seperti bakwan, tahu, dan karoket.

Namun, ada satu hal yang membuat usaha ini memiliki ritme berbeda dari tempat kuliner yang buka hingga malam: waktunya singkat. Surabi Ajul melayani pembeli setiap hari, mulai pukul 04.30 hingga 07.00 WIB.

Hanya dua setengah jam. Setelah itu, pagi berlanjut tanpa aroma surabi dari lapaknya.

Bagi Ajul, menjaga rasa menjadi bagian penting dari perjalanan usaha yang telah bertahan lebih dari satu dekade. Ia berharap surabinya tetap disukai pelanggan dan usahanya terus berjalan.

Baca Juga:Penguatan Karakter dan Kesehatan Jadi PrioritasAlun-alun Tanjungkerta Bersiap Menjadi Ruang Hidup Baru

Di tengah kuliner yang berlomba menawarkan sesuatu yang baru, Ajul memilih bertahan dengan cara sederhana: tungku kayu, adonan surabi, dan pagi yang dimulai sebelum matahari meninggi. Di Sukadana, tradisi itu masih hangat setiap subuh.(kki)

0 Komentar