SUMEDANGEKSPRES – Harapan Rahmat Sopian (38), warga Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, untuk mendapatkan penghasilan lebih baik di perantauan justru berujung kesulitan.
Berangkat ke Kalimantan Tengah dengan tawaran pekerjaan sebagai buruh perkebunan kelapa sawit, Rahmat mengaku mendapati kenyataan berbeda setibanya di lokasi. Sistem upah yang semula dijanjikan harian ternyata berubah menjadi pekerjaan borongan dengan target 100 tandan buah sawit setiap hari.
Merasa tidak sanggup memenuhi tuntutan pekerjaan tersebut, Rahmat kini berharap bisa segera pulang ke kampung halaman. Ia bahkan membuat video permohonan bantuan yang ditujukan kepada Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.
Baca Juga:Jadwal SIM Keliling Sumedang November 2026, Ini Lokasi dan SyaratnyaPrakiraan Cuaca Sumedang Selasa 3 November 2026
Kisah tersebut bermula pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Saat itu, Rahmat berkomunikasi dengan seorang perempuan bernama Erna yang mengaku berasal dari Kuningan. Perempuan tersebut menawarkan pekerjaan di perkebunan kelapa sawit di wilayah Kalimantan Tengah dengan sistem pengupahan harian.
Dalam penawaran itu, biaya transportasi dan uang makan disebut akan dipinjamkan terlebih dahulu oleh pihak perusahaan perkebunan. Total biaya yang disampaikan mencapai Rp2,5 juta.
Tertarik dengan kesempatan tersebut, Rahmat menyetujui tawaran pekerjaan. Pada 21 Oktober 2026, ia berangkat bersama sejumlah calon pekerja dari beberapa kabupaten. Mereka terlebih dahulu berkumpul di kawasan Cileunyi sebelum diberangkatkan menggunakan kendaraan yang disediakan.
Persoalan mulai muncul setelah Rahmat tiba di lokasi perkebunan. Ia mengaku justru diminta menandatangani kontrak kerja selama satu tahun dengan sistem borongan.
Dalam ketentuan tersebut, pekerja dibebani target mengumpulkan 100 tandan buah kelapa sawit setiap hari.
Rahmat mengaku terkejut. Sebab, sistem pekerjaan yang diterimanya tidak sesuai dengan penawaran awal yang menyebutkan pembayaran upah harian.
Ia sempat mencoba menjalani pekerjaan tersebut selama beberapa hari. Namun, kemampuan fisiknya hanya sanggup mengumpulkan sekitar 10 tandan sawit dalam sehari.
Baca Juga:Ngaku Polisi untuk Jual Sabu di Sumedang, Pelaku Punya Foto BerseragamDelapan Desa di Cimalaka Punya Kades Baru, Ini Daftar Pemenang Pilkades 2026
Beban pekerjaan semakin terasa karena jarak antara tempat singgah dan lokasi perkebunan cukup jauh. Rahmat mengaku harus berjalan kaki sekitar empat hingga lima jam setiap hari untuk mencapai area kebun.
“Saya kaget karena kenyataannya tidak sesuai dengan yang dijanjikan saat masih di kampung halaman. Awalnya ditawarkan upah harian, tetapi setelah sampai di lokasi ternyata sistemnya borongan dengan target 100 buah sawit sehari,” demikian penuturan Rahmat.
