oleh

Alat Berat Datang di Tengah Pelepasan Hak Tanah Belum Usai

SUMEDANGEKSPRES.COM – Warga Desa Cibeureuyeuh Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang, mendadak resah atas kedatangan empat alat berat berupa dua beko dan dua dozer pada Kamis (29/5) malam.

Keresahan timbul karena ratusan pemukiman dan bidang tanah warga Desa Cibeureuyeuh yang terkena jalur pembanungan proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), belum semuanya keluar pelepasan hak (PH).

Warga desa yang mengatasnamakan diri sebagai Orang Terkena Dampak (OTD) Tol Cisumdawu fase V ini khawatir bila empat alat berat itu akan mulai bergerak untuk meratakan pemukimannya yang nantinya menjadi jalan tol. Pasalnya, hingga saat ini, dari 352 bidang yang terkena jalur tol di Desa Cibeureuyeuh, baru sekitar 78 bidang yang sudah selesai PH-nya. Sedangkan sisanya yang masih berjumlah ratusan, belum keluar PH. Sehingga, belum juga mendapatkan uang ganti rugi (UGR).

“Masyarakat OTD termasuk saya sendiri merasa resah itu karena belum dibayar. Dengan adanya beko ini tentunya resah,” kata salah seorang warga, Iis Rukmaesih S,Pd. kepada wartawan, belum lama ini.

Dikatakan, keresahan warga juga muncul karena dari keseluruhan bidang yang terkena proyek jalan tol di Desa Cibeureuyeuh, hampir 60 persennya merupakan pemukiman. Saat ini, harga tanah untuk dijadikan rumah baru dari penggantian yang akan didapat, sudah melambung tinggi.

“Saya juga sebagai OTD resah, mau kemana saya pindah? Harga tanah sudah melambung tinggi. Sebelum adanya resum, tanah yang tadinya Rp.1 juta, kini sudah jadi Rp.4 Juta. Sampai bingung, mau membuat rumah lagi belum ada uang, karena harus nunggu pembayaran dari tol,” paparnya.

Iis mengaku, sempat menanyakan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Cisumdawu, berapa lama setelah pencairan UGR warga harus pindah. Menurutnya, membuat rumah tidak akan selesai hanya dalam waktu dua bulan. Apalagi, banyak pemukiman yang terkena jalur tol. Maka dari itu, warga tidak ingin alat berat ini mulai bekerja bila belum semua PH selesai.

“Engga bisa (dimulai pekerjaan). Kita menolak bila seperti itu (belum selesai PH),” tegasnya.

Di tempat sama, warga lainnya yang juga pemukimannya terkena proyek Tol Cisumdawu, Wawan Sukriawan mengatakan hal sama. Wawan juga khawatir bila alat berat ini mulai bergerak, sedangkan rumahnya dan warga lainnya belum selesai dalam hal UGR-nya.

“Takutnya diratain lahan, sedangkan tanah kita belum dibayar. Kalau sudah ada kejelasan mau dibayar kapan, kita tenang juga. Tempat tinggal kita juga belum pasti di mana. Kemarin baru sebagian dibayar, tapi kebanyakan belum,” ungkapnya.

Wawan pun berharap kepada pihak Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) selaku juru bayar Tol Cisumdawu ini, untuk segera menyelesaikan sisa PH yang hingga saat ini belum keluar.

“Supaya kita juga tenang. Bisa pindah dari tempat tinggal kita yang akan terkena tol. Jadi bila sudah dibayar, mau diratakan juga silahkan,” tukasnya. (kga)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *