oleh

Rismana: Jangankan Bisa Mencari Nafkah, untuk Berjalan Saja Tak bisa, Lantaran Menahan Rasa Sakit Akibat Tukang Kaki yang Bergeser

SUMEDANGEKSPRES.COM  – Pasca bencana alam longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang kini memasuki bulan ketujuh.

Peristiwa naas yang menelan 40 korban jiwa meninggal tersebut hingga kini masih banyak yang belum terselesaikan, di anyaranya soal kejelasan titik serta kapan dimulainya relokasi belum ada titik terang.

Selain itu, ada kisah miris dari dampak peristiwa naas yang terjadi pada 9 Januari 2021 lalu.

Rismana (33) warga Dusun Cipareuag Peuntas, RT02 RW05, Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung.

Ia menjadi korban longsor tertimpa reruntuhan yang mengakibatkan mata kakinya hancur, persendian telapak kaki patah dan tulang bahu yang terpaksa harus dipasang besi atau perawatan terapi secara rutin.

Terkait hal itu, Rismana mengaku, sudah lama dirinya tidak mendapat kiriman bantuan dari pemerintah.

“Belum dapat bantuan lagi dari terakhir pas Januari waktu itu, sembako. Sampai sekarang belum ada lagi,” kata Rismana saat ditemui di kediamannya, Selasa (3/8).

Rismana menerangkan, sejak kiriman sembako terakhir yang diterimanya, ia mendapat bantuan hanya dari para donatur melalui Karang Taruna Kecamatan Cimanggung.

“Dulu kerja serabutan, seringnya kerja jadi kuli bangunan. Tapi dari sakit (akibat longsor) udah gak bisa kerja lagi menghidupi anak istri,” ujarnya.

Jangankan bekerja, untuk beraktivitas sehari-sehari saja Rismana perlu berupaya menahan rasa sakit dari tulang-tulang yang bergeser.

Melalaui pantauan lapangan, Rismana terlihat hanya duduk terdiam di atas kursi dan hanya dapat berjalan di dalam rumah supaya persendian dan urat tubuh tidak kaku.

“Uang sejuta dapet dari pemerintah tapi cuma sekali waktu itu, Rp 500 ribu dua kali jadi totalnya sejuta,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk membiayai pengobatan supaya tidak semakin parah, Rismana terpaksa mengeluarkan biaya pribadi dengan menjual semua barang miliknya.

“Perlengkapan kerja sampai alat pancinganpun saya jual buat berobat. Mengajukan ke RW biar dapet bantuan juga belum turun terus, padahal kwitansi bukti pengobatan sudah di serahkan. Selanjutnya pengobatan biaya sendiri,” imbuh Rismana.

Tinggal di dalam rumah berukuran 3×4 meter, Rismana hidup bersama istri bernama Lala (34) dan kedua anaknya Ari Sanjaya (10) serta Muhammad Ramdhani (4).

“BPBD sempat janji mau kasih bantuan pengobatan sampai sembuh, tapi janiinya sampai sekarang enggak ada,” ucap Rismana.

Dalam pemaparannya, Rismana menuturkan, selama pengobatan yang ia lakukan, sekiranya telah menghabiskan biaya sebesar Rp 7 juta rupiah.

“Sekarang pinginnya berobat cuma biaya gak ada, harusnya kontrol tapi enggak pernah,” ucapanya.

Selain Rismana, sang anak yang bernama Ari juga menjadi korban longsor yang mengakibatkan anggota tubuhnya rusak.

“Anak juga kena yang usia 10 tahun (Ari Sanjaya) waktu itu longsor, tangan kanannya bengkok,” pungkas Rismana.

Kemudian mirisnya, istri Rismana mengaku, saat bahan logistik dari para donatur yang disimpan di SMA Negeri Cimanggung, Lala bahkan ditolak mendapatkan kebutuhan karena dianggap hanya mengaku-ngaku sebagai korban longsor.

Sempet gak dikasih bantuan, kata Lala malah dipersulit, diminta KK, KTP, disuruh ke Kecamatan, ke Desa. Sudah semua dilakuin tapi tetep tidak dinkasih bantuan padahal cuma minta pempers dikira mengaku-ngaku.

“Mau bawa pempers aja buat si ade yang umur empat tahun ini, (Muhammad Ramdhani) gak dikasih,” tutup Lala. (kos)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *