Waspadai Cuaca Ekstrim Hingga 21 Oktober, Ini Potensi Bencana yang Kemungkinan akan Terjadi!

Waspadai Cuaca Ekstrim Hingga 21 Oktober, Ini Potensi Bencana yang Kemungkinan akan Terjadi!
Sejumlah luasan sawah di Ciherang Kecamatan Sumedang Selatan saat mengalami longsor beberapa waktu lalu hingga menyebabkan pesawahan tersebut hancur (dok sumeks)
0 Komentar

sumedang, KOTA – Dalam beberapa hari terakhir, hujan lebat mengguyur wilayah Kabupaten Sumedang. Hal ini, patut diwaspadai karena memiliki potensi terjadi bencana seperti longsor maupun banjir.

Daerah yang patut diwaspadai, adalah wilayah Cadas Pangeran. Di jalur legendaris itu, banyak tebing yang rawan ambrol. Bahkan, sebagian tebing yang di atasnya terdapat rumah warga, sudah ditutupi terpal. Hal ini, menghindari material batu dan tanah yang bisa kapan saja menutupi jalan nasional tersebut.

Di sejumlah titik persawahan, lereng yang dijadikan lahan sawah, pun terlihat sudah ada yang ambrol -ambrol.

Baca Juga:Holding Ultra Mikro Tunjukkan Kinerja Impresif, 23,5 Juta Nasabah Rasakan ManfaatnyaMiris! Anak 15 Tahun Cabuli Dua Bocah Sesama Jenis di Bandung

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatolog dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan Peringatan Dini, waspada cuaca ekstrem periode 15 Oktober hingga 21 Oktober 2022.

Potensi cuaca ekstrem tersebut masih dapat terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini disebabkan kondisi atmosfer di wilayah Indonesia masih cukup kompleks dan dinamis untuk sepekan kedepan, yang dipengaruhi oleh fenomena atmosfer global, regional ataupun lokal.

Hasil analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya Siklon Tropis SONCA di sekitar Laut China Selatan sebelah timur Vietnam, tepatnya di sekitar 14.2°LU 111.4°BT dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 35 knots (64 km/h) dan tekanan udara minimum di pusatnya mencapai 998 mb.

Siklon Tropis SONCA ini bergerak ke arah barat-barat laut dengan kecepatan 6 knots (10 km/h) memasuki daratan Vietnam.

Keberadaan sistem TC SONCA ini membentuk pola belokan dan perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktifitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian utara ekuator.

Dampak tidak langsung yang terjadi dari adanya sistem bibit siklon tersebut adalah potensi hujan Sedang-Lebat yang disertai kilat/petir/angin kencang di wilayah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat dengan potensi gelombang tinggi di wilayah perairan utara Indonesia.

Baca Juga:Ngeri! Ramalan 2030 Sebagian Indramayu Tenggelam karena Kenaikan Permukaan LautKisah Rio Alief Drummer NOAH, 8 Bulan Dampingi Istri Melawan Kanker

Sementara itu, beberapa gelombang ekuatorial masih cukup aktif di wilayah Indonesia, dimana fenomena Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan fenomena Madden Jullian Oscillation (MJO) masih dapat berkontribusi dalam meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan kedepan.

0 Komentar