Dalam seni tradisional bantengan, urutan ritual kesenian bantengan adalah adanya doa nyuguh atau sandingan sesaji sebagai ritual wajib pembukaan. Ritual dilanjutkan dengan tari pencak silat, lalu masuk pada menu utama atraksi solah bantengan. Kesurupan atau trance menjadi puncak ritual dari seni tradisi bantengan, dan ditutup dengan ritual ruwatan oleh pawang banteng untuk mengembalikan kesadaran pemain atau penari bantengan.
Sementara, Bantengan Mberot keluar dari pakem tradisional dengan mengubah beberapa ritual. Dari sejumlah performa Bantengan Mberot Malang yang ditampilkan di media sosial, tari pencak silat sebagai pemanasan jarang atau bahkan tidak diperagakan. Atraksi diganti dengan koreografi dan formasi bantengan yang seragam dan seirama untuk menarik penonton. Aksi ‘saweran’ bantengan juga kadang dilakukan pada fase ini.
Setelah itu, atraksi solah inovatif yang diiringi musik DJ ala Sound Horeg digelar. Musik atau instrument bergenre dangdut, bahkan elektronik koplo mengiringi performa para penari Bantengan Mberot. Trance atau kesurupan tetap ada. Namun, dari sejumlah konten di media sosial, penari bantengan tidak benar-benar kesurupan dan lebih bersifat gimmick untuk membuat suasana semakin memuncak.
Baca Juga:Laksa, Tarawangsa, dan Sembilan Utusan: Warisan Abad Lampau dari RancakalongMangu-Malu
Fenomena transformasi Bantengan ini bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga mencerminkan proses negosiasi makna budaya di tengah masyarakat yang terus berubah. Di sinilah teori hibriditas budaya menemukan relevansinya. Konsep itu kali pertama dipopulerkan Homi K Bhabha dalam bukunya The Location of Culture. Bhabha (1994) mendefinisikan hibriditas budaya sebagai berikut :
Hibriditas adalah tanda dari produktivitas kekuasaan kolonial yang selalu bergerak dan berubah; ia merupakan bentuk pembalikan strategis terhadap proses dominasi melalui penolakan, yaitu dengan menciptakan identitas-identitas diskriminatif yang menegaskan kemurnian identitas otoritas.
Meminjam konsep Bhabha, hibriditas budaya merupakan proses pencampuran budaya yang terjadi ketika dua budaya (biasanya antara yang dominan dan subversien) berinteraksi, saling memengaruhi dan melahirkan identitas baru yang ambivalen. Bhabha menolak pandangan bahwa identitas budaya bersifat stabil. Sebaliknya, dia berargumen bahwa identitas budaya bisa berubah dan selalu terbentuk di ruang pertemuan yang disebut sebagai third space atau ruang ketiga.
