Keraton Sumedang Larang Ditegaskan sebagai Episentrum Kebudayaan Sunda di Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun
Menteri Luar Keraton Sumedang Larang, R. Asep Sulaiman Fadil Adiwinata saat ditemui di Museum Prabu Geusan Ulun, baru-baru ini.(Laila/Sumesk)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Keraton Sumedang Larang kembali ditegaskan sebagai pusat atau episentrum kebudayaan Sunda di Kabupaten Sumedang.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Keraton Sumedang Larang, R. Asep Sulaiman Fadil Adiwinata, yang menekankan peran strategis keraton dalam menjaga kesinambungan adat, tradisi, dan nilai-nilai luhur peradaban Sunda.

Asep menjelaskan, tugas utama Menteri Luar Keraton tidak hanya membangun relasi kelembagaan, tetapi juga menjaga dan memperkuat hubungan strategis dengan pemerintah daerah, masyarakat adat, masyarakat luas, serta organisasi-organisasi perkeratonan di Nusantara.

Baca Juga:Klaim Jalan Cimanggung Mulus Dipertanyakan, Warga Temukan Banyak Titik Rusak di CikahuripanPMI Sumedang Evaluasi Program 2025, Donor Darah Tembus 12 Ribu Labu

“Peran Menteri Luar bukan sekadar hubungan formal, tetapi juga sebagai duta, mediator, negosiator, sekaligus juru bicara keraton dalam menyampaikan informasi dan nilai-nilai budaya kepada publik,” ujarnya.

Dalam menjalankan peran tersebut, Keraton Sumedang Larang aktif menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai forum perkeratonan nasional, seperti Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Menurutnya, jejaring ini dinilai penting untuk menyelaraskan program-program budaya agar berjalan berkesinambungan dan berdampak luas.

Menurut Asep, Keraton Sumedang Larang memiliki agenda budaya tahunan yang telah terjadwal secara konsisten. Di antaranya Kirab Panji, Kirab Mahkota Kemaharajaan Sunda, Kirab dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, serta peringatan Muharraman, Haul, dan Rajaban.

Selain itu, keraton juga terlibat aktif dalam berbagai tradisi masyarakat adat, seperti Ngalaksa, Ngarod, Babarit, Mitembean, Ampih Pare, Ngagogo, Marak, dan Ngoyak Empang, hingga menghadiri rangkaian Buku Tahun Hajat Desa di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang.

“Seluruh kegiatan ini merupakan bagian dari program keraton sebagai pusat pelestarian budaya, karena keraton memiliki peran sebagai episentrum adat dan tradisi Sunda,” katanya.

Peran tersebut, lanjut Asep, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumedang yang telah menetapkan daerah ini sebagai Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) atau pusat peradaban Sunda.

Baca Juga:Dari Jalan hingga Air Bersih, Proyek Strategis 2026 Jadi Arah Baru Pembangunan SumedangDi Balik Bersihnya Alun-alun Sumedang, Perempuan-perempuan Ini Bekerja Tanpa Keluh

Ia menegaskan, Keraton Sumedang Larang memiliki kekhasan tersendiri karena memikul amanat sejarah besar peradaban Sunda. Keraton berfungsi sebagai pusat rekonstruksi dan revitalisasi nilai-nilai luhur peninggalan Kerajaan Sunda, Galuh, Pajajaran, hingga Kerajaan Sumedang Larang.

0 Komentar