Di Balik Bersihnya Alun-alun Sumedang, Perempuan-perempuan Ini Bekerja Tanpa Keluh

Alun-alun Sumedang
TANGGUH: Di balik bersihnya Alun-alun Sumedang, ada perempuan-perempuan tangguh yang bekerja sejak pagi demi keluarga dan menjaga wajah kota tetap indah.(Kiki/Sumeks)
0 Komentar

SETIAP pagi, ketika sebagian warga baru memulai aktivitas, sekelompok perempuan sudah lebih dulu menyusuri sudut-sudut Alun-Alun Sumedang. Dengan sapu di tangan dan langkah yang nyaris tak pernah berhenti, mereka menjadi garda terdepan penjaga wajah kota, petugas kebersihan yang kerap luput dari perhatian.

Sejak pagi hingga siang hari, para ibu petugas kebersihan ini memastikan taman, jalur pejalan kaki, area bermain anak, hingga fasilitas umum bebas dari sampah. Rutinitas itu berlangsung setiap hari, tanpa sorotan, namun menentukan kenyamanan ribuan pengunjung yang datang ke ruang publik kebanggaan warga Sumedang.

Rahayu, salah seorang petugas kebersihan, mengungkapkan bahwa volume sampah biasanya melonjak tajam saat akhir pekan dan hari libur. Namun kondisi itu tak pernah menjadi alasan untuk mengendurkan tanggung jawab.

Baca Juga:TPT Longsor di Cipameungpeuk, Akses Jalan Lingkungan Warga LumpuhRp12,5 Miliar Digelontorkan, Bupati Ingatkan Petani Ujungjaya: Jangan Jual Sawah, Negara Butuh Pangan

“Kalau libur, sampah pasti lebih banyak. Tapi ya tetap harus bersih, karena ini kan alun-alun, tempat orang banyak datang,” tuturnya, Rabu (14/1).

Ia menjelaskan, sejak 2017 pengelolaan petugas kebersihan Alun-Alun Sumedang berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup. Sebelumnya, pengelolaan masih berada langsung di lingkup pemerintah daerah.

Namun di balik tugas menjaga kebersihan kota, tersimpan kisah hidup yang jauh dari kata ringan. Sebagian petugas kebersihan perempuan ini adalah tulang punggung keluarga. Ada yang sudah tidak memiliki suami, ada pula yang sepenuhnya menggantungkan hidup keluarga dari upah menyapu dan mengangkut sampah.

“Alhamdulillah penghasilannya sekitar dua juta per bulan. Dari situ saya bisa menyekolahkan anak-anak,” ujar Rahayu lirih.

Ia bekerja mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB dan telah menjalani profesi ini sejak 2003—lebih dari dua dekade menjaga kebersihan ruang publik tanpa banyak perubahan nasib.

Meski lelah dan kerap dipandang sebelah mata, para perempuan petugas kebersihan ini nyaris tak pernah mengeluh. Mereka tetap bekerja dengan keteguhan, menyapu sisa-sisa aktivitas kota, sambil membawa harapan sederhana: anak-anak mereka bisa hidup lebih baik.

Keindahan Alun-Alun Sumedang sejatinya bukan hanya soal taman yang rapi atau lantai yang bersih, melainkan tentang keteguhan perempuan-perempuan hebat yang bekerja dalam senyap. Mereka adalah inspirasi nyata tentang kerja keras, ketulusan, dan rasa syukur atas pekerjaan yang dimiliki—betapapun beratnya. (kki)

0 Komentar