SUMEDANGEKSPRES – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Medal Kabupaten Sumedang menegaskan bahwa setiap gangguan distribusi air bersih yang terjadi di lapangan ditangani berdasarkan standar teknis dan prioritas pemulihan infrastruktur, bukan karena perbedaan perlakuan terhadap wilayah pelayanan.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Medal, Hj Imas Permasih menegaskan, seluruh pelanggan di berbagai wilayah memperoleh pelayanan yang sama. Menurutnya, proses pemulihan distribusi air sepenuhnya mengikuti kaidah teknis jaringan perpipaan dan kondisi di lapangan.
“Kami memastikan seluruh unit pelayanan dan cabang diperlakukan sama secara profesional. Penanganan teknis dilakukan murni berdasarkan kaidah hidrolika pipa dan prioritas pemulihan infrastruktur,” tegas Imas Permasih, Kamis (23/7).
Baca Juga:37 ASN Pemkab Sumedang Dilantik Jadi Pejabat Fungsional, Wabup: Harus Jadi Motor Penggerak PembangunanCamat dan Kades Harus Cek Lapangan, Dony Ahmad Munir: Jangan Sampai Ada Warga Kelaparan saat Kemarau
Imas menjelaskan, terdapat lima faktor utama yang paling sering memengaruhi kelancaran distribusi air bersih kepada pelanggan.
Pertama, gangguan teknis berupa kebocoran atau pecahnya pipa transmisi maupun distribusi utama yang terjadi secara mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, tim quick response langsung diterjunkan untuk melakukan perbaikan pada hari yang sama agar layanan dapat segera dipulihkan.
“Kedua, gangguan pada mesin pompa maupun ketidakstabilan tegangan listrik PLN. Kerusakan pompa atau fenomena voltage drop dapat menghambat proses produksi dan distribusi air. Penanganannya dilakukan melalui perbaikan atau penggantian unit pompa, disertai koordinasi intensif dengan pihak PLN untuk menjaga kestabilan pasokan listrik.” tuturnya.
Faktor ketiga, sambung Imas, berasal dari alam, terutama saat musim kemarau atau cuaca ekstrem yang menyebabkan debit air baku menyusut drastis. Dalam kondisi tersebut, Perumda menerapkan sistem penggiliran aliran air agar seluruh pelanggan tetap memperoleh layanan meski dengan keterbatasan sumber air.
Imas menjelaskan, saat penggiliran berlangsung, masyarakat perlu memahami bahwa air tidak dapat mengalir serentak ke seluruh pelanggan.
“Volume air baku yang tersedia terbatas sehingga pengaliran harus dilakukan secara bertahap. Ini merupakan langkah agar seluruh wilayah tetap memperoleh pasokan sesuai kemampuan produksi,” ujar Imas.
Gangguan berikutnya berkaitan dengan kualitas air baku. Hujan deras di kawasan tangkapan air dapat meningkatkan tingkat kekeruhan, bahkan membawa lumpur pekat atau menyebabkan banjir di sumber air.
