Pahami 5 Faktor Gangguan Distribusi Air, Perumda Tirta Medal Pastikan Pelayanan Setara di Seluruh Wilayah

Pahami 5 Faktor Gangguan Distribusi Air, Perumda Tirta Medal Pastikan Pelayanan Setara di Seluruh Wilayah
Pahami 5 Faktor Gangguan Distribusi Air, Perumda Tirta Medal Pastikan Pelayanan Setara di Seluruh Wilayah
0 Komentar

Dalam kondisi tersebut, instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) terkadang harus menghentikan sementara atau mengurangi kapasitas produksi demi mencegah air yang belum memenuhi standar kualitas masuk ke jaringan pelanggan serta menghindari kerusakan pada sistem penyaringan.

“Faktor kelima merupakan pekerjaan pemeliharaan yang telah direncanakan, seperti pengurasan reservoir, pembersihan bak penampungan, relokasi pipa akibat pembangunan jalan atau jembatan, hingga penyambungan jaringan baru melalui interkoneksi,” imbuhnya.

Lebih jauh Imas menuturkan, untuk pekerjaan yang telah dijadwalkan, pihaknya selalu menyampaikan pemberitahuan lebih dahulu kepada masyarakat agar pelanggan dapat menyiapkan cadangan air sebelum pekerjaan dimulai.

Baca Juga:37 ASN Pemkab Sumedang Dilantik Jadi Pejabat Fungsional, Wabup: Harus Jadi Motor Penggerak PembangunanCamat dan Kades Harus Cek Lapangan, Dony Ahmad Munir:  Jangan Sampai Ada Warga Kelaparan saat Kemarau

Selain menjelaskan penyebab gangguan, Perumda Tirta Medal juga memaparkan alasan teknis mengapa distribusi air tidak langsung normal setelah perbaikan selesai dilakukan.

Menurut Imas, salah satu proses yang harus dilalui adalah line packing, yakni pengisian kembali jaringan pipa yang sebelumnya kosong akibat penghentian aliran. Saat jaringan kosong, udara masuk ke dalam pipa sehingga ketika distribusi dimulai kembali dibutuhkan waktu untuk mengeluarkan udara tersebut sekaligus membangun kembali tekanan di seluruh jaringan.

“Kondisi ini sering membuat pelanggan mengira air sudah seharusnya langsung mengalir normal setelah perbaikan selesai. Padahal secara teknis jaringan harus kembali terisi penuh dan tekanan harus stabil terlebih dahulu,” terang Imas.

Bahkan Imas juga menerangkan adanya perbedaan pola konsumsi antara kawasan perkotaan atau perumahan dengan wilayah perkampungan.

“Di kawasan perumahan dan perkotaan, sebagian besar pelanggan menggunakan toren maupun tangki bawah tanah. Ketika aliran kembali dibuka, seluruh penampung tersebut akan terisi secara bersamaan sehingga terjadi lonjakan kebutuhan air dalam waktu singkat. Dampaknya, tekanan air di wilayah tengah hingga ujung jaringan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali stabil,” bebernya.

Sementara itu, di kawasan perkampungan, pola penggunaan air umumnya masih memanfaatkan kran secara langsung tanpa penampung berkapasitas besar. Akibatnya, lonjakan konsumsi tidak sebesar di kawasan perumahan sehingga tekanan air cenderung pulih lebih cepat dan stabil.

Melalui penjelasan tersebut, Perumda Tirta Medal berharap masyarakat semakin memahami bahwa setiap gangguan distribusi memiliki karakteristik dan penanganan yang berbeda. “Perusahaan juga memastikan akan terus meningkatkan kecepatan respons, kualitas pelayanan, serta transparansi informasi kepada pelanggan agar proses pemulihan dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat,” pungkasnya. (red)

0 Komentar