SUMEDANGEKSPRES – Mengakhiri tahun dengan doa dan kepedulian, Lapas Kelas IIB Sumedang menggelar Doa Bersama untuk Negeri yang dirangkaikan dengan pemberian bantuan sosial, Sabtu (27/12).
Bertempat di Lapangan Apel Lapas Sumedang, kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga binaan dan jajaran petugas, termasuk Kalapas Kelas IIB Sumedang, Agung Hascahyo.Doa bersama ini menjadi momentum refleksi akhir tahun sekaligus ikhtiar spiritual menyambut tahun baru, dengan harapan menghadirkan kedamaian, keselamatan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia.
Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekhusyukan, doa juga dipanjatkan secara khusus bagi saudara-saudara sebangsa di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang tengah menghadapi musibah bencana alam.
Baca Juga:Insan BRILian Region 9 Bandung Salurkan Donasi Tanggap Bencana untuk SumatraMenelusuri Jejak Hukum Margawindu: Mengapa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) Masih Menjadi Subjek Tunggal yang Sah?
Dipimpin oleh Ustadz M. Mumtaz Nurfakih, lantunan doa mengalir menyatukan harapan dari balik tembok pemasyarakatan—menjadi pengingat bahwa kepedulian dan empati tidak mengenal batas. Seluruh peserta larut dalam suasana doa, memanjatkan harapan agar negeri senantiasa dilindungi dan diberi kekuatan menghadapi berbagai ujian.
Sebagai wujud nyata dari doa yang dipanjatkan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian bantuan sosial kepada anak-anak yatim dari Yayasan Pondok Pesantren Al-Yakin. Aksi ini menjadi simbol bahwa kepedulian tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
Kalapas Kelas IIB Sumedang, Agung Hascahyo menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun nilai spiritual dan kemanusiaan di lingkungan pemasyarakatan.
“Doa bersama ini menjadi sarana refleksi dan penguatan batin bagi kita semua. Kami ingin menutup tahun dengan kepedulian dan menyambut tahun baru dengan harapan serta semangat untuk terus berbagi dan berbuat kebaikan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Sumedang menegaskan komitmennya untuk terus menanamkan nilai keimanan, solidaritas, dan kepedulian sosial—bahwa dari balik tembok pemasyarakatan pun, doa dan aksi nyata dapat menjadi bagian dari penguatan negeri. (red)
