Jejak Mahkota Binokasih: Sejarah Panjang Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Edukator Museum Prabu Geusan Ulun
EDUKASI: Edukator Museum Prabu Geusan Ulun, Siti Rodiah, Siti Rodiah tengah memaparkan sejarah kepada salah satu pengunjung Museum Prabu Geusan Ulun baru-baru ini. (Laila/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Di balik tenangnya Kota Sumedang, berdiri sebuah museum yang menyimpan jejak panjang sejarah para penguasa tanah Pasundan: Museum Prabu Geusan Ulun.

Museum Prabu Geusan Ulun bukan sekadar ruang pamer benda pusaka, melainkan saksi perjalanan kekuasaan, budaya, dan identitas Sumedang dari masa ke masa.

Tak banyak yang tahu, museum ini bermula dari sebuah yayasan keluarga. Sebelum dikenal luas seperti sekarang, koleksi pusaka para Bupati Sumedang disimpan secara tertutup oleh Yayasan Pangeran Sumedang yang berdiri sejak tahun 1950.

Baca Juga:2026, OJK Perketat BNPL, Ini Ciri Buy Now Pay Later yang Aman dan DiawasiDaerah Tertekan Kebijakan Pusat, Honor PPPK Paruh Waktu Sumedang Dievaluasi di Tengah Beban APBD Rp53 Miliar

Hal itu diungkapkan pemandu lokal sekaligus edukator Museum Prabu Geusan Ulun, Siti Rodiah, yang akrab disapa Teh Neng, saat ditemui Sumedang Ekspres, Rabu (31/12/2025).

“Karena benda pusaka semakin banyak, termasuk hibah dari keluarga keturunan bupati, muncul gagasan untuk membuat museum,” kata Teh Neng.

Gagasan tersebut akhirnya terwujud pada tahun 1973 atas prakarsa Raden Ating Nata Kusumah. Saat pertama kali berdiri, museum ini diberi nama Museum YAPASA (Yayasan Keluarga Pangeran Sumedang) dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka serta wakaf para bupati terdahulu.

Namun, setahun kemudian terjadi perubahan penting. Pada 1974, nama museum diubah menjadi Museum Prabu Geusan Ulun. Pergantian nama ini bukan tanpa alasan.

“Di dalam museum tersimpan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, peninggalan Prabu Geusan Ulun. Itu sebabnya nama museum disesuaikan,” jelas Teh Neng.

Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah para sejarawan, budayawan, dan sesepuh Sumedang sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh penting dalam sejarah kerajaan Sumedang Larang.

Menariknya, meski telah berdiri sejak 1973, Museum Prabu Geusan Ulun belum langsung dibuka untuk masyarakat umum. “Awalnya hanya untuk kalangan keluarga,” ujar Teh Neng.

Baca Juga:Model Cilik Asal Ganeas, Cantika Dewi, Tampil Memukau di Milangkala Kecamatan Ganeas ke-25Pengangguran Laki-laki Lebih Tinggi di Sumedang, Industri dan Jasa Jadi Sektor Paling Terpukul

Baru pada tahun 1985, museum ini resmi dibuka untuk publik dan mulai berfungsi sebagai ruang edukasi sejarah dan budaya. Sejak saat itu, Museum Prabu Geusan Ulun menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Sumedang.

Hingga kini, museum tersebut tetap berdiri dengan nama yang sama dan terus berupaya menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup di tengah generasi muda.

0 Komentar