Dentum sorak penonton, gemerincing lonceng di leher domba, dan aroma tanah pemidangan menyatu di Pasirnanjung Geulis. Di awal tahun 2026, seni ketangkasan Domba Garut kembali hidup. Bukan sekadar tontonan, melainkan penanda bahwa budaya leluhur masih bernafas kuat di tengah perubahan zaman.
ENGKOS KOSWARA, Kecamatan Cimanggung, Sumedang Ekspres
PEMINDANGAN Pasirnanjung Geulis, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, terasa berbeda di awal tahun 2026. Suara sorak penonton, denting lonceng domba, dan semangat para peternak berpadu menjadi satu, menandai hidupnya kembali seni ketangkasan Domba Garut terus dijaga lintas generasi.
Bagi masyarakat Pasirnanjung, seni ketangkasan Domba Garut bukan sekadar tontonan. Ia adalah ruang silaturahmi, simbol kebanggaan, sekaligus pengingat bahwa budaya leluhur masih memiliki tempat terhormat di tengah arus zaman.
Baca Juga:Ratusan Botol Miras Disita Polisi dalam Operasi Pekat di TanjungsariSepanjang 2025, Sumedang Disambar Petir 1,8 Juta Kali
Dengan mengusung semangat “Jaga Budaya, Pelihara Budidaya”, kegiatan ini kembali digelar sebagai bentuk komitmen merawat tradisi lokal.
Puluhan peternak dari berbagai daerah mulai dari Sumedang, Bandung, hingga Garut. Mereka berkumpul membawa domba terbaik mereka. Sebanyak 75 RB tercatat resmi mengikuti ajang ini, dengan total 81 pertandingan yang melibatkan 162 ekor domba.
Setiap laga bukan hanya adu ketangkasan, tetapi juga cerminan perawatan, kesabaran, dan kecintaan peternak terhadap hewan ternaknya.
Aming, panitia Pemidangan Pasirnanjung Geulis, menyebut antusiasme peserta dan penonton menjadi bukti bahwa seni tradisi ini masih berdenyut kuat di hati masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga seni budaya Domba Garut tetap hidup. Bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai identitas dan kebanggaan daerah,” ujarnya.
Untuk menambah kemeriahan, panitia mengemas acara dengan sistem doorprize berhadiah berbagai perlengkapan rumah tangga.
Namun bagi sebagian besar peserta, hadiah terbesar adalah kebersamaan dan kesempatan bertemu sesama peternak dalam suasana penuh kekeluargaan.
Baca Juga:Longsor TPT Cisempur: Tragedi Pekerja, Proyek Tak Berizin, dan Kelalaian yang Berujung NyawaSang WaktuÂ
Lebih dari sekadar ajang seni, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga jasa parkir turut merasakan perputaran ekonomi yang tercipta dari keramaian pemidangan.
Semangat yang tercermin dalam kegiatan ini sejalan dengan nilai Sumedang Hudang Tandang Makalangan bangkit, bergerak, dan berdaya saing tanpa meninggalkan akar budaya.
